Dampak Asap Karhutla Kalimantan pada Kesehatan Paru, Jantung, dan Otak

Smallest Font
Largest Font

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan menimbulkan masalah serius selain gangguan jarak pandang dan kualitas udara. Asap yang dihasilkan membawa campuran polutan yang berpotensi merusak berbagai organ tubuh.

Berdasarkan data, hotspot karhutla meningkat di Kalimantan Barat, Tengah, dan Selatan, disertai kabut asap yang menyebabkan jarak pandang terbatas. Asap tersebut mengandung partikel halus PM2.5, nitrogen dioksida, ozon, hidrokarbon aromatik, dan logam berat seperti timbal.

Partikel PM2.5 menjadi fokus utama karena ukurannya yang sangat kecil dan dapat menembus hingga ke dalam paru-paru, bahkan masuk ke aliran darah sehingga memengaruhi organ lain di tubuh.

Menurut Yang Liu, ilmuwan kesehatan lingkungan dari Emory University, "Asap kebakaran bukan hanya bahaya langsung bagi pernapasan. Seluruh tubuh terdampak. Asap kebakaran menyebabkan stres oksidatif pada tubuh dan memperburuk atau mempercepat perkembangan penyakit."

Sistem kardiovaskular juga sangat rentan terhadap paparan asap ini. Penelitian yang diterbitkan di European Heart Journal mengaitkan paparan kronis PM2.5 dengan peningkatan risiko stroke pada lansia. Selain itu, kasus serangan jantung dan gangguan jantung juga meningkat setelah paparan asap kebakaran.

Asap karhutla dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer dari lokasi kebakaran. Aubrey Miller dari National Institutes of Health, AS, menekankan bahwa jenis material terbakar, seperti plastik dan logam berat, menambah risiko bahaya bagi masyarakat di daerah terdampak.

Kondisi ini relevan untuk Kalimantan karena asap tidak terbatas pada wilayah kebakaran saja, melainkan menyebar mengikuti arah angin hingga mencapai wilayah jauh, seperti Sarawak, Malaysia, yang kini kualitas udaranya tergolong tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Dampak asap juga berkaitan dengan fungsi otak. Penelitian menunjukkan kemungkinan hubungan antara paparan asap dengan gangguan kognitif dan depresi. Stres oksidatif dan proses peradangan akibat polutan diduga menjadi mekanisme utama gangguan ini.

Gejala yang dialami tidak selalu berupa sesak napas. Beberapa orang melaporkan batuk, dada sesak, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan gangguan fokus yang dapat bertahan setelah kabut asap menghilang.

Ibu hamil dan anak-anak termasuk kelompok rentan yang perlu perhatian khusus. Paparan asap selama kehamilan dikaitkan dengan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Kelompok lain yang rentan adalah lansia, penderita asma, dan pengidap penyakit kronis lainnya.

Marshall Burke dari Stanford University menyebutkan bahwa kelompok yang terpengaruh lebih luas dari perkiraan, termasuk anak-anak di sekolah dan pasien kanker.

Temuan ini menegaskan bahwa karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan masalah kesehatan masyarakat karena paparan bisa terjadi jauh dari lokasi kebakaran.

Yang Liu menambahkan bahwa belum ada ambang batas aman untuk paparan asap kebakaran jangka panjang. Paparan berulang dalam kadar sedang saja sudah berpotensi menimbulkan dampak serius.

Sebuah studi di Nature memperkirakan sekitar 1,9 juta kematian berlebih akibat PM2.5 dari asap kebakaran di AS selama 2026-2055, menunjukkan besarnya risiko yang mungkin timbul jika paparan berlangsung terus-menerus dalam skala luas.

Meskipun angka tersebut adalah proyeksi untuk Amerika Serikat, hal ini memberikan gambaran risiko kesehatan yang perlu diwaspadai untuk wilayah seperti Kalimantan yang mengalami karhutla berulang.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed