Core Indonesia Sebut Pelemahan Rupiah Dipicu Faktor Domestik
Lembaga riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia menyatakan bahwa depresiasi nilai tukar rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor domestik dibandingkan tekanan ekonomi global pada Rabu (29/7/2026) di Jakarta, dilansir dari Investor Daily.
Ekonom Core Indonesia, Dipo Satria Ramli, menjelaskan bahwa persoalan dalam negeri seperti penurunan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional, defisit neraca perdagangan, serta ketidakpastian arah kebijakan menjadi pemicu utama pelemahan tersebut.
Faktor global memang tetap memberikan dampak, namun porsinya diperkirakan hanya sekitar 30 hingga 40 persen, sementara masalah domestik menyumbang 60 hingga 70 persen dari keseluruhan tekanan terhadap mata uang garuda.
"Menurut kami mungkin lebih banyak faktor domestik. Faktor global itu mungkin 30-40%, domestik mungkin 60-70% dari masalah. Kenapa saya bilang begitu? Karena kalau kita lihat trennya, itu memang rupiah yang melemah paling dalam di Asia," ujar Dipo.
Pada penutupan perdagangan Rabu (29/7/2026), mata uang rupiah sempat menguat tipis sebesar 10 poin atau 0,06 persen ke posisi Rp18.073 per dolar AS. Kendati demikian, penguatan tersebut dinilai belum mampu mengubah tren penurunan yang masih tertinggal jika dibandingkan dengan mata uang negara-negara tetangga di kawasan Asia.
Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menunjukkan kurs rupiah pada paruh pertama tahun ini berada pada level Rp17.899 per dolar AS, atau terdepresiasi 7,05 persen secara tahun berjalan dan melemah 10,27 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.
Tekanan terhadap sektor eksternal kian terlihat setelah neraca perdagangan Indonesia mencatatkan defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026, mengakhiri tren surplus yang telah bertahan selama 72 bulan berturut-turut.
"Itu pertama kali kita neraca perdagangannya negatif setelah 6 tahun. Ini bukan tanda kita krisis, tapi ini memang adalah early warning bahwa memang bantalan eksternal kita menipis," kata Dipo.
Di saat mata uang kawasan seperti ringgit Malaysia, baht Thailand, dan peso Filipina cenderung menguat, posisi rupiah saat ini melenceng jauh dari target asumsi makro APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp16.500 per dolar AS.
"Artinya tren kita sangat berbeda dengan negara-negara lain," ujarnya.
Dipo juga menyoroti kenaikan indikator risiko credit default swap (CDS) Indonesia yang mendekati angka 100 dari sebelumnya 70 pada awal tahun, yang menunjukkan meningkatnya persepsi risiko di mata investor akibat ketidakpastian kebijakan.
"Isu unpredictability policy selalu muncul, termasuk dalam laporan lembaga pemeringkat. Walaupun peringkat kredit Indonesia tetap terjaga, risiko kebijakan yang berubah-ubah masih menjadi sorotan," tutur Dipo.
Guna meredam gejolak, Bank Indonesia telah menerapkan strategi triple intervention di pasar NDF luar negeri, pasar spot dan DNDF domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder, di samping menaikkan BI-Rate sebesar 100 basis poin selama Mei-Juni 2026.
Langkah penanganan volatilitas tersebut dinilai Core Indonesia lebih berfungsi menekan fluktuasi ketimbang membalikkan arah tren pergerakan rupiah.
"Banyak dari produk ini, dia fungsinya itu hanya mengenai volatilitas. Jadi mungkin rupiah naik turunnya tinggi, tetapi dengan ada produk ini dia volatilitasnya berturun. Tetapi kalau rupiah trennya melemah, dia tetap melemah," jelasnya.
Direktur Riset Bidang Makroekonomi, Kebijakan Fiskal, dan Moneter Core Indonesia, Akhmad Akbar Susanto, menambahkan bahwa bank sentral kini berada dalam posisi dilematis antara menjaga kestabilan nilai tukar dan mendorong pertumbuhan sektor riil.
"Kalau yang terjadi adalah, sudah tingkat suku bunganya dinaikkan, nilai tukar rupiahnya tidak menguat, nah berarti tekanannya jadi dua. Tapi kalau yang terjadi adalah, nilai tukar rupiahnya kemudian menguat, maka berarti ada manfaatnya. Tinggal dibandingkan nanti, apakah lebih besar manfaatnya, ataukah lebih besar konsekuensi kepada sektor riil," tutur Akhmad.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow