BRI Danareksa Naikkan Target Harga Saham ICBP Jadi Rp 10.600
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 11,3 persen secara tahunan pada semester I-2026, yang mendorong BRI Danareksa Sekuritas menaikkan target harga saham emiten Grup Salim tersebut menjadi Rp 10.600 pada Jumat (21/8/2026).
Kenaikan target harga saham ICBP dari proyeksi sebelumnya sebesar Rp 10.500 ini dilansir dari Investor Daily. Proyeksi baru tersebut mencerminkan potensi kenaikan harga saham hingga 39 persen dari posisi terakhir, dengan rekomendasi saham yang dipertahankan pada tingkatan beli.
Pertumbuhan kinerja keuangan perusahaan disokong oleh seluruh segmen bisnis, terutama penjualan mi instan di pasar internasional yang melonjak 20,7 persen secara tahunan. Capaian pasar luar negeri tersebut melampaui pertumbuhan penjualan domestik yang tercatat sebesar 7 persen.
Penjualan mi instan dari pasar mancanegara kini menyumbang 28 persen terhadap total pendapatan perusahaan. Lonjakan volume produksi tersebut didukung beroperasinya pabrik baru ICBP di Bogor sejak akhir tahun lalu yang menambah kapasitas sebanyak 1,5 miliar bungkus.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Christy Halim dan Sabela Nur Amalina, merevisi proyeksi keuangan perusahaan menyusul capaian positif pada paruh pertama tahun ini.
"Kami menaikkan estimasi laba Indofood CBP pada 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 6,2%," kata Christy Halim dan Sabela Nur Amalina, Analis BRI Danareksa Sekuritas.
Atas kenaikan estimasi laba dan solidnya momentum penjualan, proyeksi valuasi price to earnings ratio (PE) ICBP tahun 2026 disesuaikan menjadi 11,6 kali dari sebelumnya 11,2 kali. Manajemen ICBP saat ini masih mempertahankan target pertumbuhan pendapatan 2026 secara konservatif pada rentang 5 persen hingga 7 persen.
Peluang kenaikan target pendapatan terbuka pada kuartal berikutnya seiring ekspektasi berlanjutnya tren penjualan dua digit di pasar internasional. Proyeksi kerugian nilai tukar ICBP pada 2026 juga diperkirakan turun menjadi Rp 2,2 triliun dengan asumsi kurs rata-rata Rp 17.500 per dolar AS.
Meskipun terdapat risiko cuaca fenomena El Nino pada Oktober–Desember 2026 dan tekanan margin akibat biaya bahan baku serta logistik, dampaknya dinilai lebih terkendali karena bertepatan dengan musim hujan di Indonesia. Selain itu, potensi pelemahan permintaan serta volatilitas nilai tukar tetap menjadi faktor risiko utama yang dicermati.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow