BMKG Peringatkan Potensi Angin Kencang Dampak Monsun Australia dan El Nino

Smallest Font
Largest Font

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperingatkan masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia untuk mengantisipasi potensi angin kencang menjelang puncak musim kemarau. Peningkatan kecepatan angin ini dipicu oleh dinamika atmosfer, penguatan Monsun Australia, serta pengaruh fenomena El Nino.

Kondisi atmosfer saat ini dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara yang cukup lebar antara Belahan Bumi Utara dan Belahan Bumi Selatan. Keberadaan bibit siklon tropis di wilayah utara turut memicu embusan angin bertiup lebih kencang di Jawa Tengah, termasuk kawasan Kota Semarang yang sempat dilintasi pusaran angin pada Jumat, 24 Juli 2026.

Di wilayah Nusa Tenggara Barat, penguatan Monsun Australia membawa massa udara kering dan memicu peningkatan kecepatan angin maksimum hingga 20 knot atau 37 kilometer per jam berdasarkan pengamatan di Bandara Lombok.

"Dari pengamatan kami di Bandara Lombok tercatat kecepatan angin maksimum hingga 20 knot," kata Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid, Ari Wibianto.

Pusat tekanan tinggi di Benua Australia juga berdampak pada fenomena gelombang tinggi di perairan Samudra Hindia. BMKG mengingatkan masyarakat pesisir, nelayan, serta pengguna transportasi laut untuk meningkatkan kewaspadaan.

"Angin kencang wajar terjadi ketika di musim kemarau, karena di bulan Juli hingga Agustus dari data yang kami catat memang menunjukkan adanya peningkatan kecepatan angin di wilayah NTB," ucap Ari.

Sementara itu, BMKG Dhoho Kediri menyoroti risiko lain yang menyertai embusan angin kuat, yakni meningkatnya potensi kebakaran lahan kering dan permukiman akibat kelembapan udara yang sangat rendah.

"Saat ini sudah mendekati puncak kemarau sehingga perbedaan tekanan di BBU dan BBS cukup lebar. Salah satu sebabnya adalah itu," kata Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Giyarto.

Pihak BMKG Semarang menegaskan bahwa dinamika fenomena cuaca lokal sangat dipengaruhi oleh perubahan tekanan antarhemisfer tersebut.

"Dan adanya bibit Siklon Tropis di BBU juga dapat meningkatkan kecepatan angin di wilayah kita," ujarnya.

Di sisi lain, kelembapan udara yang rendah serta tiupan angin kencang berpotensi memicu percepatan penjalaran api secara meluas jika terjadi kebakaran.

"Pola anginnya masih normal karena memang menjadi ciri musim kemarau. Hanya saja, pengaruh El Nino membuat embusan angin terasa lebih kuat sehingga dampaknya perlu lebih diwaspadai," ujar Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik sekaligus Prakirawan Cuaca BMKG Dhoho Kediri, Satria Kridha Nugraha.

Selain ancaman kebakaran, BMKG mengingatkan sektor transportasi darat dan udara terkait potensi gangguan stabilitas kendaraan akibat terpaan angin samping.

"Angin dari arah samping bisa memengaruhi keseimbangan kendaraan, termasuk pesawat. Karena itu, informasi cuaca perlu menjadi salah satu pertimbangan sebelum melakukan perjalanan," katanya.

Masyarakat diminta untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca resmi dan memeriksa kekokohan struktur bangunan guna meminimalkan risiko bahaya angin kencang selama musim kemarau.

"Ketika udara semakin kering dan angin bertiup lebih kencang, api akan lebih cepat menyebar. Sebisa mungkin hindari aktivitas pembakaran terbuka, karena percikan kecil sekalipun dapat memicu kebakaran yang lebih besar," jelasnya.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed