Bisnis Non-Batu Bara TOBA Sumbang 66,5 Persen Pendapatan
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) membukukan pendapatan dari bisnis pengelolaan limbah dan ekosistem kendaraan listrik sebesar 66,5 persen dari total pendapatan konsolidasi sepanjang semester I-2026 pada Jumat (28/8/2026), dilansir dari Investor Daily.
Capaian tersebut menggeser dominasi bisnis batu bara yang kontribusinya menyusut menjadi 31,4 persen. Pendapatan konsolidasi perseroan tercatat stabil pada angka US$ 173 juta, sementara laba kotor melonjak dari US$ 13,9 juta menjadi US$ 28,2 juta. Kenaikan laba didorong oleh penurunan beban pokok pendapatan sebesar US$ 13,5 juta, sehingga margin laba kotor melesat menjadi 16,3 persen dan EBITDA konsolidasi tumbuh 23,7 persen.
Perubahan komposisi pendapatan ini terjadi seiring langkah perseroan yang sepenuhnya keluar dari bisnis pembangkit listrik tenaga batu bara serta memangkas perdagangan batu bara hingga dua pertiga secara tahunan.
Direktur dan Chief Financial Officer TBS Energi Utama Juli Oktarina memberikan penjelasannya terkait pencapaian transformasi bisnis perseroan.
"Tahun lalu batu bara masih jadi penyumbang utama pendapatan kami. Hari ini bisnis non-batu bara kami dua kali lipat lebih besar, dan bisnis inilah yang menghasilkan kas. Inilah transisi yang kami janjikan," ujar Juli Oktarina, Direktur dan Chief Financial Officer TBS Energi Utama.
Segmen pengelolaan limbah menjadi kontributor terbesar dengan menyumbang pendapatan US$ 105,9 juta atau 61,2 persen dari pendapatan konsolidasi, serta menyumbang sekitar 92 persen EBITDA perseroan. Kinerja ini didukung oleh operasional Cora Environment di Singapura yang mengelola 752.000 ton limbah, Asia Medical Enviro Services sebesar 2.100 ton, dan ARAH Environmental di Indonesia sebanyak 5.800 ton limbah.
Sementara itu, pendapatan dari ekosistem kendaraan listrik Electrum melonjak 184 persen menjadi US$ 9,1 juta dengan laba kotor US$ 0,4 juta dan EBITDA US$ 0,5 juta. Operasional Electrum kini mencakup hampir 14.000 unit motor listrik dan 550 Battery Swapping Station, dengan volume penukaran baterai mencapai lebih dari 1,7 juta kali per bulan.
Di sisi lain, segmen batu bara masih mencatatkan pendapatan US$ 34,9 juta dengan laba kotor yang meningkat menjadi US$ 9,3 juta berkat disiplin biaya dan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Transformasi ini mendorong arus kas operasi menjadi positif US$ 14,6 juta, dengan saldo kas sebesar US$ 94,7 juta per 30 Juni 2026.
Perseroan juga menekan utang bank jangka pendek sebesar 30,9 persen dan memperpanjang profil jatuh tempo utang melalui refinancing obligasi rupiah PUB II dan PUB III senilai US$ 27,5 juta. Rasio utang bersih terhadap EBITDA membaik menjadi 5,4 kali.
Juli Oktarina menegaskan kembali kesiapan finansial perseroan dalam melanjutkan agenda keberlanjutan.
"Kami punya likuiditas untuk mendanai rencana pertumbuhan dan tetap berada di jalur target netralitas karbon 2030. Bisnis-bisnis baru kami sudah menghasilkan kas, utang jangka pendek kami turun signifikan, dan neraca kami memberi ruang untuk terus berinvestasi," ujar Juli Oktarina, Direktur dan Chief Financial Officer TBS Energi Utama.
Selain segmen yang dikonsolidasikan, perseroan memperoleh kontribusi US$ 110.300 dari PLTM berkapasitas 6 MW melalui entitas asosiasi. Proyek PLTS Terapung berkapasitas 46 MWp juga dijadwalkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026 untuk memperkuat portofolio energi bersih.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow