Bisnis Non-Batu Bara TOBA Melonjak Capai 66,5 Persen Pendapatan
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) membukukan kenaikan signifikan dari lini bisnis non-batu bara pada semester I-2026. Lini ini menyumbang 66,5 persen dari total pendapatan konsolidasi perseroan, seperti dilansir dari Investor Daily.
Capaian tersebut melampaui porsi bisnis batu bara yang tercatat sebesar 31,4 persen. Laba kotor perseroan juga melonjak menjadi US$ 28,2 juta dari sebelumnya US$ 13,9 juta, meskipun pendapatan konsolidasi stabil di level US$ 173 juta.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Andhika Audrey menilai perubahan struktur tersebut menandai tahap monetisasi portofolio TOBA. Pertumbuhan tidak hanya terlihat pada laba kotor, tetapi juga diversifikasi sumber pendapatan yang semakin solid.
"Yang menarik bukan hanya laba kotornya tumbuh lebih dari dua kali lipat, tetapi sumber pertumbuhannya mulai semakin terdiversifikasi. Ketika bisnis non-batu bara sudah menjadi mayoritas pendapatan dan kontribusinya terus meningkat, pasar mendapatkan indikator yang lebih konkret bahwa transformasi portofolio mulai masuk ke tahap monetisasi," ujar Andhika Audrey.
Pengelolaan limbah menjadi penopang utama dengan pendapatan tumbuh 77,8 persen menjadi US$ 105,9 juta. Laba kotor segmen ini naik 91,9 persen menjadi US$ 17,6 juta, sementara EBITDA melesat menjadi US$ 23,6 juta.
Lini pengolahan limbah menyumbang 61,2 persen terhadap total pendapatan dan 92 persen terhadap EBITDA konsolidasi. Kinerja ini didukung operasional Cora Environment di Singapura, Asia Medical Enviro Services, serta ARAH Environmental di Indonesia.
Andhika Audrey menjelaskan bahwa bisnis pengelolaan limbah memberikan pendapatan berulang yang lebih stabil bagi perseroan.
"Waste management berpotensi memberikan recurring income yang lebih stabil. Jika skala operasi terus bertambah dan utilisasi aset tetap terjaga, segmen ini dapat menjadi salah satu jangkar profitabilitas TOBA ketika kontribusi bisnis berbasis komoditas semakin dikurangi," kata Andhika Audrey.
Di sisi lain, pendapatan dari ekosistem kendaraan listrik melalui Electrum melesat 184 persen menjadi US$ 9,1 juta. Laba kotor segmen ini berbalik positif menjadi US$ 0,4 juta dari rugi US$ 0,5 juta pada tahun lalu.
Saat ini, Electrum mengoperasikan hampir 14.000 unit motor listrik dan 550 Battery Swapping Station. Aktivitas penukaran baterai telah melampaui 1,7 juta kali per bulan dengan total jarak tempuh 135 juta kilometer.
Efisiensi Lini Batu Bara dan Perbaikan Kas
Meskipun porsi batu bara menyusut, segmen pertambangan tetap mencatat perbaikan profitabilitas. Pendapatan batu bara turun 4,1 persen menjadi US$ 34,9 juta, namun efisiensi biaya membuat laba kotornya melambung ke US$ 9,3 juta dari US$ 1,3 juta.
Arus kas operasi TOBA berbalik positif menjadi US$ 14,6 juta dari sebelumnya negatif US$ 31,6 juta. Kerugian bersih perseroan juga berkurang 83,2 persen menjadi US$ 19,4 juta dari US$ 115,3 juta pada semester I-2025.
Andhika Audrey menekankan pentingnya menjaga pertumbuhan bisnis non-batu bara secara berkelanjutan ke depan.
"Pasar pada akhirnya akan melihat apakah pertumbuhan waste dan kendaraan listrik dapat terus diterjemahkan menjadi EBITDA dan arus kas yang semakin besar. Semester I-2026 memberikan sinyal awal yang positif karena transformasi tidak hanya terlihat dari perubahan komposisi pendapatan, tetapi mulai tercermin pada margin dan cash flow," tutur Andhika Audrey.
Perseroan kini terus memperluas ekspansi energi terbarukan, termasuk pengoperasian PLTM 6 MW dan proyek PLTS terapung 46 MWp. Posisi kas TOBA tercatat US$ 94,7 juta per 30 Juni 2026 dengan penurunan utang jangka pendek sebesar 30,9 persen.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow