BEI Hapus Batas Harga Minimum Saham Rp50 Akhir September 2026
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersiap menerapkan penghapusan batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1 per saham pada akhir September 2026. Kebijakan ini diberlakukan di pasar reguler dan pasar tunai guna meningkatkan likuiditas serta proses pembentukan harga pasar.
Langkah reformasi pasar modal tersebut menyasar saham-saham di Papan Pemantauan Khusus agar dapat diperdagangkan dalam rentang harga lebih luas. Efek perubahan regulasi ini juga berpotensi memangkas modal investasi minimum menjadi sekitar Rp1.000 per lot dari sebelumnya Rp50.000 per lot.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengungkapkan bahwa pihaknya menetapkan target peluncuran kebijakan baru tersebut pada pekan ketiga atau keempat September 2026. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan hasil dua kali uji coba atau mock trading yang diselenggarakan pada 22 dan 29 Agustus 2026.
"Kemudian target untuk live kita menjadikan di minggu ketiga atau minggu keempat bulan September. Karena kita akan menunggu kesiapan dari seluruh anggota bursa," ungkap Jeffrey kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Dari total peserta uji coba, sebanyak 83 Anggota Bursa (AB) menyatakan siap, sementara 8 AB lainnya belum berpartisipasi. Otoritas bursa saat ini tengah memberikan pendampingan intensif kepada sekuritas yang belum siap untuk memastikan transisi berjalan lancar.
"Untuk memberikan akses likuiditas dan price discovery yang lebih baik, kami akan menghapus batasan harga minimum Rp 50," kata Jeffrey kepada wartawan, Kamis (20/8/2026).
Penyesuaian batas harga saham ini juga merupakan bagian dari pembahasan bersama Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) dan Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII). BEI memproyeksikan frekuensi dan nilai transaksi dapat meningkat 2 hingga 3 kali lipat jika saham di Papan Pemantauan Khusus masuk ke pasar reguler melalui mekanisme continuous auction.
"Mulai dari kami melakukan FGD, kemudian kami melakukan sosialisasi kepada pelaku, 'feedback' yang kami dapat sangat positif," ujar Jeffrey diwawancarai wartawan di Gedung BEI Jakarta, Selasa.
Manajemen BEI optimis perubahan regulasi ini direspons positif oleh penyedia indeks global seperti MSCI dan FTSE, meski penyesuaian batas harga minimum tidak dimasukkan secara tertulis dalam delapan proposal Rencana Aksi Percepatan Reformasi Pasar Modal Indonesia.
"Tentu besar harapan kami MSCI, FTSE, dan global index provider lainnya juga akan merespon ini dengan positif," ujar Jeffrey.
Kebijakan ini dibuat tidak hanya untuk menjawab perhatian penyedia indeks global, melainkan juga demi memperkuat tata kelola, transparansi, dan likuiditas pasar modal domestik.
"Tetapi saat ini tentu kita melakukan reformasi pasar sudah, tidak hanya menjawab concern dari MSCI, tetapi apa yang baik buat pasar kita. Bagaimana kita menghadirkan tidak hanya transparansi, tidak hanya tata kelola yang baik, tetapi juga kita menghadirkan likuiditas dan tentu price discovery yang baik," ujar Jeffrey.
Sebanyak 8 AB yang belum berpartisipasi dalam skema pengujian serta mekanisme auto rejection baru terus ditindaklanjuti oleh otoritas bursa.
"Secara umum cukup berhasil. Ada sekitar 8 Anggota Bursa yang belum berpartisipasi. Itu akan kami follow up dalam uji coba berikutnya," ungkap Jeffrey kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Dukungan terhadap rencana regulasi baru ini turut disampaikan oleh pelaku industri pasar modal. Co-Founder sekaligus CEO Ajaib Group Anderson Sumarli menilai skema harga baru akan memperluas keterjangkauan masyarakat dalam berinvestasi saham.
"Jadi kalau satu lot saham sekarang paling murah Rp 50 ribu. Tapi Bursa Efek Indonesia sekarang ada kajian untuk menurunkan minimal dari Rp 50 jadi Rp 1. Jadi sebentar lagi akan minimalnya bisa Rp 1.000 rupiah untuk beli saham. Itu luar biasa," jelas Anderson dalam konferensi pers di kantor PT Ajaib Teknologi Indonesia, Jakarta, Senin (31/8/2026).
Anderson menambahkan bahwa penyesuaian mekanisme pasar dapat meningkatkan transparansi sekaligus memberikan perlindungan yang lebih kuat bagi investor ritel.
"Saya melihat sangat positif ya, karena semua perubahan-perubahan ini intinya adalah untuk membuat pasar modal kita lebih transparan. Yaitu mungkin dari segi price finding-nya, ataupun dari segi untuk menjaga keamanan dari segi ritel yang ikutan masuk ke dalam pasar modal kita," kata Anderson.
Pihaknya mengaku siap memenuhi seluruh persyaratan serta pengujian yang ditetapkan otoritas bursa untuk mendukung inovasi pasar modal, termasuk pengembangan produk exchange traded fund (ETF) dan derivatif.
"Kita tuh yang pasti dikasih PR (pekerjaan rumah) terbanyak biasanya kalau ada inovasi-inovasi baru. Kita pasti yang paling rajin. Kita bilang oke baik kita akan ambil, kita akan coba gitu, karena kami selalu ingin perkembangan dari pasar modal Indonesia," tandas Anderson.
BEI masih mengumpulkan laporan hasil FGD dan uji coba dari seluruh Anggota Bursa sebelum mengumumkan tanggal resmi pemberlakuan batas harga saham baru tersebut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow