Banjir Himalaya Perbatasan Nepal China Tebar Ancaman Baru
Upaya evakuasi gabungan dilancarkan militer Nepal bersama ahli dari China dan India untuk menjangkau 933 pekerja pembangkit listrik yang terperangkap di dalam terowongan akibat banjir bandang Himalaya pada Senin, 31 Agustus 2026.
Fokus utama penyelamatan saat ini diarahkan ke 11 proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Distrik Rasuwa dan Nuwakot. Pasukan militer mengerahkan ekskavator, ledakan terkontrol, serta lampu sorot darurat guna menembus pekatnya lumpur dan air yang menyumbat terowongan.
"Sejumlah besar puing telah mengendap dan itu memberi kami tantangan besar untuk membuka terowongan. Fokus utama kami adalah membuka terowongan," kata Raja Ram Basnet, Juru Bicara Militer Nepal.
Kendala medan dan tebalnya endapan material menyulitkan pergerakan tim di lapangan.
"Banjir ini adalah bencana alam yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat menghancurkan," kata Balendra Shah, Perdana Menteri Nepal.
Kerusakan masif pada infrastruktur energi membuat pemerintah kesulitan menyusun penilaian total atas kerugian yang dialami.
Petaka ini bermula ketika massa es gletser runtuh dari ketinggian 5.200 meter di kawasan pegunungan pada Rabu, 26 Agustus 2026. Bongkahan es dan batuan yang meluncur sejauh 1.200 meter menghantam dasar lembah, lalu bercampur sedimen dan air hingga menerjang permukiman sejauh 168 kilometer ke hilir.
"Berdasarkan apa yang dapat saya lihat pada … citra satelit dari Planet Labs, bagian bawah sebuah gletser runtuh dari ketinggian sekitar 5.200 meter dan jatuh menghantam dasar lembah yang berada sekitar 1.200 meter di bawahnya," kata Daniel Shugar, Geomorfolog dari University of Calgary.
Data citra satelit dan seismik mengonfirmasi bahwa pemicu utama getaran dan banjir awal berasal dari keruntuhan massa es masif, bukan gempa tektonik.
"Ketika gletser sebesar itu runtuh, tercipta air dalam jumlah besar, lalu terjadi rangkaian peristiwa beruntun... di mana air dan sedimen bercampur, bertambah volumenya, dan memicu banjir," kata Andrew Mackintosh, Glasiolog dari Monash University.
Mekanisme beruntun ini memperbesar volume aliran debris secara eksponensial saat menyapu lereng gunung. Pemanasan global yang mencairkan lapisan permafrost turut memperlemah struktur batuan penopang gletser di kawasan High Mountain Asia.
"Akibat iklim yang menghangat, gletser menyusut, es berubah menjadi air, dan air itu pun terperangkap," kata Adrian McCallum, Glasiolog dan Insinyur Kutub dari University of the Sunshine Coast.
Pencairan es berlebih meningkatkan risiko jebolnya bendungan alami pada lebih dari 2.000 danau glasial yang tersebar di wilayah Nepal.
Berdasarkan data otoritas Nepal, sebanyak 903 orang dikonfirmasi tewas dan 4.247 orang hilang di seluruh negeri, dengan ratusan jenazah tak teridentifikasi terpaksa dimakamkan secara massal. Sementara itu, kementerian luar negeri Nepal mencatat sekitar 590 warga negara asing dari 39 negara masih belum ditemukan, meski lebih dari 10.000 orang berhasil diselamatkan dan Palang Merah memperkirakan 90.000 warga terdampak langsung.
Di wilayah Tibet, otoritas China melaporkan 16 korban jiwa serta 546 orang hilang di Kabupaten Gyirong, ditambah 261 warga asing dari 23 negara yang hilang.
"Hampir 100 warga negara China belum dapat dihubungi di pihak Nepal," kata Guo Jiakun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China.
Kementerian Luar Negeri China membantah tudingan minimnya transparansi data dan menegaskan pihaknya terus menyuplai pasokan data meteorologi serta hidrologi krusial ke Nepal. Operasi evakuasi lintas negara masih terus dibayangi ancaman banjir susulan akibat risiko jebolnya danau bendungan alami di perbatasan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow