Banjir Bandang Himalaya Tewaskan 165 Orang dan Ratusan Hilang

Smallest Font
Largest Font

Bencana banjir bandang yang dipicu longsoran batu dan es menerjang kawasan Himalaya di perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8/2026). Peristiwa ini menewaskan sedikitnya 165 orang serta menyebabkan hampir 1.500 warga dilaporkan hilang.

Sebagaimana dilansir dari Investor Daily, runtuhan material lumpur dan bebatuan dalam skala besar menerjang permukiman di sepanjang lembah perbatasan. Korban hilang mencakup sekitar 800 warga negara asing yang sedang berada di wilayah tersebut.

Dampak gelombang material merusak sedikitnya enam pembangkit listrik tenaga air utama dan fasilitas di Pelabuhan Gyirong. Bencana ini juga mengubah alur aliran sungai hingga sejauh lebih dari 100 kilometer ke arah hilir mendekati India.

Pakar ilmiah menilai fenomena perubahan iklim berperan dalam mengganggu kestabilan struktur batuan dan es di kawasan tinggi tersebut.

"Perubahan iklim menciptakan kondisi yang dapat mengganggu kestabilan batuan dan es di pegunungan tinggi," kata Simon Cox, Kepala Ilmuwan Program Mountains to Sea di Earth Sciences New Zealand.

Meskipun penyebab pasti masih dianalisis, para ilmuwan menduga titik awal keruntuhan bermula dari lereng utara Puncak Langtang Lirung di Nepal. Runtuhan itu jatuh ke Sungai Lhende Khola di Tibet sebelum memicu banjir lintas batas.

"Perubahan iklim menciptakan kondisi yang dapat mengganggu kestabilan batuan dan es di pegunungan tinggi," ujar Simon Cox, Kepala Ilmuwan Program Mountains to Sea di Earth Sciences New Zealand.

Proses pemanasan global dinilai mengurangi daya dukung es pada lereng curam sekaligus meningkatkan volume air lelehan. Fluktuasi siklus pembekuan dan curah hujan turut memperlemah ketahanan lereng gunung dari risiko keruntuhan.

Di sisi lain, kombinasi faktor kriosfer dan fenomena seismik diduga ikut mempercepat terjadinya bencana tersebut.

Pencairan salju dalam jumlah besar dan aktivitas seismik diduga menjadi pemicu awal longsoran batu dan es yang kemudian berkembang menjadi banjir bandang ke arah hilir.

Suhu pegunungan yang meningkat membuat kriosfer semakin rentan, menciptakan ancaman lanjutan seperti longsoran salju, kekeringan, dan banjir yang frekuensinya kian meningkat di kawasan Hindu Kush.

Sebelumnya, peristiwa luapan air danau glasial juga sempat melanda wilayah Gyirong pada 2025, Desa Thame pada 2024, serta Negara Bagian Sikkim di India pada 2023. PBB mencatat Nepal kehilangan hampir sepertiga tutupan esnya dalam tiga dekade terakhir.

Interaksi antara guncangan gempa bumi dan dampak perubahan iklim dapat dikategorikan sebagai peristiwa majemuk yang menghasilkan kerusakan lebih parah.

Interaksi berbagai faktor tersebut dapat menimbulkan bencana yang lebih kompleks dan merusak dibandingkan jika setiap faktor terjadi secara terpisah, yang menurut analisa ilmiah mempertegas pentingnya pemahaman risiko untuk meningkatkan ketahanan masyarakat serta infrastruktur pegunungan.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed