Banjir Bandang dan Longsor di Nepal Tewaskan Lebih dari 1.000 Orang

Smallest Font
Largest Font

Banjir bandang dan tanah longsor hebat melanda wilayah utara Nepal pada 26 Agustus 2026, menyebabkan lebih dari 1.000 orang meninggal dunia dan ribuan lainnya dinyatakan hilang, menurut laporan kepolisian Nepal dan China Central Television.

Bencana tersebut dipicu oleh runtuhnya bagian bawah sebuah gletser di kawasan Himalaya, yang jatuh dari ketinggian sekitar 5.200 meter dan memicu longsoran es, batu, dan lumpur yang membendung Sungai Lhende Khola.

Ketika bendungan alami itu runtuh, air dan material lainnya dilepaskan secara besar-besaran ke daerah hilir, menyebabkan banjir bandang yang dahsyat di kawasan perbatasan Nepal-Tibet, China.

Menurut Kementerian Luar Negeri Nepal, hingga 31 Agustus 2026 sekitar 590 warga negara asing dari 39 negara masih hilang akibat bencana tersebut.

Lebih dari 10.000 orang, termasuk lebih dari 323 warga negara asing, telah berhasil diselamatkan pasca-bencana, kata pejabat Nepal.

Peristiwa ini menandai dampak perubahan iklim yang kompleks, di mana pemanasan global tidak hanya meningkatkan suhu udara, tetapi juga mengubah kestabilan lingkungan pegunungan tinggi seperti Himalaya.

"Pemanasan global sedang mengubah sebuah sistem yang sangat besar, mulai dari atmosfer, laut, hingga lapisan es di puncak pegunungan," kata Nofiyendri Sudiar, Dosen Fisika dan Kepala Pusat Riset Perubahan Iklim UNP.

Ia menjelaskan bahwa suhu yang meningkat mempercepat pencairan gletser dan mengurangi kestabilan permafrost serta es di antara retakan batuan, sehingga lereng yang sebelumnya stabil menjadi rapuh.

"Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim menciptakan kondisi yang dapat membuat batuan dan es di pegunungan tinggi semakin tidak stabil," ujar Nofiyendri Sudiar.

Namun, ia menambahkan bahwa belum ada bukti cukup untuk mengatakan pemanasan global secara langsung menyebabkan runtuhnya gletser di Nepal pada 26 Agustus tersebut.

Perubahan iklim juga meningkatkan potensi gelombang panas laut dan hujan ekstrem, yang bisa memicu bencana alam seperti siklon tropis yang lebih intens di wilayah Asia, termasuk Siklon Senyar di Selat Malaka pada 2025 yang mempengaruhi lebih dari 10 juta orang di Indonesia dan Malaysia.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed