AS Bersiap Kerahkan Puluhan Pesawat Tanker Tambahan ke Israel

Smallest Font
Largest Font

Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah berisiko kembali memanas. Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan telah menginformasikan rencana pengerahan puluhan pesawat pengisi bahan bakar di udara atau tanker tambahan kepada pihak Israel. Langkah strategis ini dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan eskalasi operasi militer terhadap Iran, seperti dikutip dari Investor Daily berdasarkan laporan Anadolu pada Sabtu (18/7/2026).

Rencana penambahan armada tersebut bergulir ketika Washington bersiap mengantisipasi lonjakan konflik dengan Teheran. Media Axios, yang melansir keterangan dari tiga pejabat AS dan Israel, mengungkapkan bahwa persiapan ini sedang berlangsung intensif.

Sebelumnya, The Wall Street Journal juga mewartakan bahwa Presiden Donald Trump tengah mengkaji perluasan operasi militer. Opsi yang dipertimbangkan mencakup pengerahan pasukan darat guna mengamankan Pulau Kharg, yang menjadi jalur vital distribusi minyak Iran.

Saat ini, sekitar 60 pesawat tanker militer AS dilaporkan telah bersiaga di wilayah Israel. Sebanyak 30 armada ditempatkan di Bandara Internasional Ben Gurion yang terletak dekat Tel Aviv, sementara 30 pesawat lainnya disiagakan di Bandara Ramon di wilayah selatan. Pemerintah AS kini terus mendesak Israel agar bersedia menerima tambahan unit pesawat lagi. Meski demikian, keputusan akhir terkait penerimaan armada tambahan tersebut berada di tangan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Rencana penambahan pesawat ini sempat memicu perdebatan di internal pemerintahan Israel. Kepala Otoritas Perhubungan Israel Miri Regev sempat mengajukan usulan untuk mengurangi jumlah pesawat tanker AS yang berada di Bandara Ben Gurion. Kendati begitu, usulan pengurangan tersebut ditolak secara tegas oleh Otoritas Pertahanan Israel dan Angkatan Pertahanan Israel (IDF). Pihak militer AS bersikeras memilih Bandara Ben Gurion karena faktor keamanan operasional penerbangan yang dinilai lebih baik dibanding pangkalan udara lain di kawasan itu.

Keberadaan jet-jet militer AS kini telah menguasai sebagian besar area bandara sipil tersebut. Menurut laporan Axios, kedatangan pesawat tambahan berpotensi mengakibatkan pembatalan massal penerbangan sipil, tepat saat memasuki puncak musim liburan.

Kronologi Ketegangan AS dan Iran

Hubungan bilateral antara AS dan Iran sebenarnya sempat menunjukkan perbaikan pascapenandatanganan nota kesepahaman pada 18 Juni 2026. Kesepakatan tersebut awalnya ditujukan untuk menghentikan konflik yang telah pecah sejak 28 Februari 2026.

Namun, jeda ketegangan tersebut tidak berlangsung lama. Sejak 8 Juli 2026, militer AS kembali meluncurkan gelombang serangan udara ke wilayah Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan itu merupakan respons atas tindakan Iran yang mengganggu pelayaran kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.

Pihak Iran membalas tindakan tersebut dengan menggempur sejumlah pangkalan militer milik AS yang berada di Timur Tengah. Menyikapi situasi yang kian eskalatif, pemerintah Iran secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Minggu (11/7/2026). Langkah Iran menutup jalur perdagangan minyak terpenting di dunia tersebut memicu reaksi keras dari Presiden Donald Trump sehari setelahnya.

Trump menyatakan bahwa pemerintah AS akan bertindak sebagai penjaga Selat Hormuz dan mengumumkan pemberlakuan kembali blokade total terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Nilai Strategis Selat Hormuz

Perseteruan antara AS dan Iran di kawasan Teluk merupakan akumulasi dari ketegangan geopolitik yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Selat Hormuz menjadi titik sentral karena merupakan jalur laut paling strategis di dunia untuk pengiriman minyak.

Sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia melewati selat sempit yang memisahkan wilayah Iran dan Oman ini. Bagi Iran, Selat Hormuz berfungsi sebagai kartu truf geopolitik utama saat menghadapi tekanan ekonomi atau sanksi dari negara-negara Barat.

Di sisi lain, AS melalui doktrin keamanan energinya menempatkan CENTCOM di Timur Tengah untuk memastikan jalur pelayaran internasional tetap terbuka bagi para sekutu. Pengerahan puluhan pesawat tanker militer tambahan ke Israel mengindikasikan bahwa AS kini bersiap menghadapi skenario terburuk jika jalur pasokan energi global tersebut tersumbat oleh perang terbuka.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed