Wamen Pendidikan Tinggi Stella Christie Imbau Lulusan Tidak Cemas Jam Kerja

Smallest Font
Largest Font

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menilai fenomena ketidaksesuaian antara jurusan kuliah dan bidang pekerjaan tidak perlu dicemaskan oleh para mahasiswa. Pernyataan tersebut disampaikan Stella saat menghadiri Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Senin, 10 Agustus 2026, seperti dilansir dari Detikcom.

Ia menegaskan bahwa sarjana yang berhasil meniti karier di luar program studinya justru menunjukkan fleksibilitas dan kemampuan mengembangkan kompetensi baru. Kekhawatiran utama seharusnya bukan terletak pada perbedaan bidang kerja, melainkan pada tingkat besaran gaji yang diterima setelah lulus dari perguruan tinggi.

"Jadi adik-adik sekalian, kalian mungkin pernah dengar bahwa kita sedang resah yang namanya non-matching. Jadi tidak match lulusnya jurusan apa, pekerja kerjanya nanti jurusan lain. Saya merasa ini ada sedikit salah paham," ujar Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Mantan Profesor di Tsinghua University itu kemudian memperjelas pandangannya mengenai kondisi yang tergolong salah paham tersebut di hadapan para mahasiswa baru.

"Salah paham karena kenapa? Justru bagus kalian bisa menekuni bidang-bidang lainnya dengan gaji yang tetap hebat. Itu justru lebih baik untuk dunia ini.

Artinya kalian mampu berbagai hal. Yang perlu dikhawatirkan itu adalah jika gajinya tidak match. Kalau gaji yang kalian dapatkan setelah lulus jauh lebih rendah dari rata-rata gaji lulusan perguruan tinggi, itu baru mengkhawatirkan.

Tapi kalau bidang tidak perlu khawatir," kata Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Untuk menguatkan pandangannya, pakar ilmu kognitif lulusan Harvard University ini membagikan sejumlah contoh nyata dari rekan-rekan dan akademisi di sekitarnya. Seorang rekan seangkatannya dari jurusan Sejarah kini sukses menjadi pembuat aplikasi populer dan berstatus jutawan. Selain itu, terdapat pula Profesor Sastra Cina di Tsinghua University, Nicholas Morrow Williams, yang sebenarnya menempuh pendidikan S1 di jurusan Matematika Murni.

Pengalaman serupa terjadi pada suaminya sendiri, Profesor Bartek Czech, yang saat ini mengajar sebagai profesor Fisika di Tsinghua University meskipun berlatar belakang pendidikan sarjana Kimia dan Matematika di Harvard University.

"Contoh hidup nyata, mantan pacar yang sekarang menjadi suami saya, Profesor Bartek Czech saat ini merupakan profesor Fisika di Tsinghua University tapi waktu di Harvard jurusannya adalah Kimia dan Matematika. Beda total dengan professorship-nya," tutur Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Dalam kesempatan yang sama, Stella membagikan perbandingan budaya kerja mahasiswa di Indonesia dan Amerika Serikat berdasarkan pengalamannya saat menempuh S1 Psikologi di Harvard. Di negara tersebut, bekerja di sela-sela perkuliahan merupakan hal lumrah, di mana mahasiswa internasional diizinkan bekerja di area kampus.

Stella mengungkapkan bahwa ia pernah melakoni berbagai pekerjaan kampus, termasuk menjadi petugas pembersih toilet, dapur, dan ruang kelas. Jadwal harian Stella saat itu dimulai pukul 06.30 hingga 02.00 dini hari keesokan harinya, yang diisi dengan kuliah mulai pukul 08.00, bekerja hingga pukul 21.00, dan dilanjutkan belajar atau mengerjakan tugas kuliah.

"Di Harvard hampir semua mahasiswanya bekerja, bukan magang tapi bekerja. Saya kerjanya macam-macam, termasuk menjadi janitor yang membersihkan toilet, dapur, dan ruang-ruang kelas, sederhananya saya menjadi pembersih," katanya Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Eksplorasi lintas bidang dan pengalaman kerja tersebut dinilainya penting untuk menyiapkan mahasiswa menghadapi perkembangan teknologi, seperti ancaman otomatisasi dari Artificial Intelligence (AI) terhadap berbagai jenis pekerjaan.

"Kalau kita tanya kenapa kalian harus eksplorasi (jawabannya) karena kalau kalian hanya eksploitasi ilmu yang saat ini, ada kemungkinan hal itu sudah tidak dibutuhkan lagi waktu kalian lulus. Tapi kalau kalian seimbangkan dengan eksplorasi, kalian akan bisa mengerjakan (hal) yang lain, yang akan tetap relevan, meskipun ilmu yang kalian eksploitasi itu sudah digantikan." ungkap Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Sebagai wujud eksplorasi masa kuliahnya, Stella yang menguasai beragam bahasa ini juga sempat mengambil dua program kelas bahasa di luar jurusan utamanya, yaitu bahasa Mandarin dan bahasa Polandia.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed