Spanyol Mulai Pulangkan Imigran Ceuta di Tengah Ketegangan Diplomatik

Smallest Font
Largest Font

Sebanyak 69.500 imigran telah kembali ke Maroko dari Ceuta selama 30 jam terakhir setelah penyeberangan massal melanda wilayah otonom Spanyol di Afrika Utara tersebut sejak pekan lalu. Lonjakan migrasi ini memicu korban jiwa sedikitnya 67 orang dan memicu krisis diplomatik di Uni Eropa.

Sumber kepolisian seperti dilansir EFE mengonfirmasi bahwa angka tersebut mencakup imigran yang masuk sebelum gelombang penyeberangan massal pada Kamis (30/7/2026), serta mereka yang melintasi perbatasan berulang kali. Keterbatasan akses kebutuhan dasar di Ceuta dan pengumuman rencana repatriasi bersama antara Spanyol dan Maroko menjadi faktor utama pendorong kepulangan para imigran.

Guna mencegah insiden susulan, otoritas Spanyol mulai memasang barikade pengaman bertenaga udara sepanjang 500 meter di pemecah gelombang perbatasan Tarajal. Kementerian Dalam Negeri Spanyol mencatat jumlah korban tewas akibat penyeberangan berisiko ini telah bertambah menjadi 67 jiwa, setelah sebelumnya dilaporkan lebih dari 49.000 orang menyeberang dengan berenang atau berjalan kaki dari Kota Fnideq, Maroko.

Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska menegaskan bahwa situasi keamanan dan aktivitas bisnis di kawasan perbatasan Afrika Utara tersebut telah membaik secara signifikan.

"Hampir semua telah meninggalkan Ceuta. Situasinya hampir sepenuhnya berbalik," kata Grande-Marlaska.

Meskipun situasi fisik mulai terkendali, dampak politik terus meluas. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengkritik keras respons sejumlah negara tetangga yang dianggapnya tidak mencerminkan nilai solidaritas Uni Eropa.

"Uni Eropa tidak mampu menoleransi reaksi egois, memecah belah, dan melanggar hukum seperti ini," kata Sanchez dalam suratnya kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

Sanchez menekankan bahwa perbatasan Ceuta—yang bukan bagian dari zona Schengen—berhasil dipulihkan dalam kurun waktu kurang dari 48 jam. Namun, langkah Italia yang menangguhkan perjanjian bebas visa Schengen dengan Spanyol selama sebulan memicu reaksi balasan dari Madrid melalui pemanggilan Duta Besar Italia.

Di sisi lain, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen memberikan pernyataan tegas terkait insiden tersebut.

"Kita tidak dapat mengizinkan siapa pun datang ke Uni Eropa tanpa mematuhi aturan kita," kata von der Leyen.

Ketegangan juga meluas ke ranah internasional. Politikus Spanyol Carolina Alonso menuding adanya keterlibatan Israel dan Maroko dalam krisis ini sebagai balasan atas sikap kritis Madrid terhadap perang di Gaza. Sebaliknya, Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon melayangkan kritik tajam terkait kebijakan imigrasi Spanyol melalui media sosial X.

"Spanyol, yang tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menggurui Israel, telah mendeklarasikan keadaan darurat di Ceuta menyusul krisis terkait kebijakan imigrasinya," kata Danon.

Danon juga mempertanyakan keberadaan wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara tersebut. Menanggapi pernyataan itu, Menteri Transportasi Spanyol Oscar Puente memberikan sinyal singkat di platform X.

"Yah, semuanya tampaknya menjadi cukup jelas," kata Puente.

Para menteri dalam negeri Uni Eropa dijadwalkan menggelar konferensi video darurat pekan depan untuk membahas skenario mobilisasi instrumen keamanan dan pencegahan penyeberangan ilegal lanjutan.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow