Pedangdut Senior Tanggapi Fenomena Musik Hipdut dan Pergeseran Gen Z

Smallest Font
Largest Font

Tiga penyanyi dangdut senior dari grup 3 Kembang, yakni Cici Paramida, Kristina, dan Ikke Nurjanah, memberikan pandangan mereka terkait maraknya genre musik hipdut di Mampang, Jakarta Selatan, Jumat (14/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detik Hot.

Perpaduan musik dangdut dengan sentuhan modern tersebut saat ini menarik perhatian generasi muda, khususnya Gen Z. Cici Paramida merasakan dampak dari tren ini setelah lagu lamanya yang dirilis pada 1995 kembali viral dalam berbagai versi.

"Nah, nggak tahu kenapa di akhir tahun 2025, masuk tahun 2026, kok lagu itu sekarang muncul lagi," kata Cici Paramida.

Ia menjelaskan bahwa kepopuleran kembali tembang Jangan Tunggu Lama-Lama dipicu oleh banyaknya unggahan cover dari pendengar muda. Respons tersebut membuat dirinya memproduksi ulang karya tersebut bersama label Musica.

"Dan alhamdulillahnya lagu itu bisa viral dengan berbagai macam versi. Nah, akhirnya dari lihat banyaknya yang meng-cover lagu itu... Iya, dengan Gen Z juga.

Akhirnya nggak mau ketinggalan dong. Aku akhirnya buat juga dari label Musica dengan versi hipdut Jangan Tunggu Lama-Lama yang musiknya memang lebih dibuat ke Gen Z," beber Cici Paramida.

Sementara itu, Kristina menilai genre musik dangdut pada dasarnya selalu memiliki tempat di hati masyarakat dan tidak pernah kehilangan panggung.

"Dangdut dari dulu sampai sekarang itu tidak pernah mati. Waduh, mantap ya kan. Tidak ada matinya," kata Kristina.

Kristina kurang sepakat jika kepopuleran hipdut dianggap sebagai tanda kebangkitan kembali musik dangdut yang sempat redup.

"Jadi kalau dibilang sekarang dangdut ramai lagi, nggak, dari dulu udah ramai. Karena setiap pertunjukan selalu ada dangdut. Kalau tidak ada dangdut, sepi," tuturnya.

Dalam pelaksanaannya, Kristina menceritakan pengalaman pribadinya yang kerap diminta tampil mendadak untuk meramaikan suasana di berbagai acara non-dangdut.

"Pasti dia nanya, 'mana dangdutnya?' gitu lo. Misalkan ya, aku selalu kalau aku memang penyanyi dangdut ya nyanyi untuk meramaikan suasana kan," ujarnya.

Kehadiran musik dangdut dinilai selalu dinantikan penonton untuk menghidupkan suasana di bermacam kegiatan formal maupun informal.

"Tapi pada saat aku misalkan ada di acara, beberapa kali nih aku rasain ya, dia tidak memanggil penyanyi dangdut, dia lihat ada Kristina, ditarik aku. Suruh ngeramein. Eh bener, itu berapa kali, sering banget," kata Kristina.

Ia meyakini bahwa fleksibilitas dangdut membuatnya selalu dibutuhkan dalam berbagai momentum perayaan masyarakat.

"Jangan bilang dangdut itu sepi. Tidak ada kata sepi. Acara-acara pilkada kek, acara kawinan kek, acara apa kek, itu selalu ada dangdutnya," tegas Kristina.

Di sisi lain, Ikke Nurjanah memandang fenomena ini sebagai bagian dari dinamika selera musik masyarakat yang terus berkembang.

"Iya, jadi musik itu sebenarnya kan pilihan ya, selera dan sebagainya. Tapi, dangdut itu pasti mewarnai di setiap percikan-percikan acara gitu," kata Ikke Nurjanah.

Ikke menambahkan bahwa musik dangdut memiliki keunggulan dalam mengubah suasana kaku menjadi lebih santai serta memberi warna pada genre musik lain.

"Jadi aku ngerasa bahwa ini apa ya, musik yang menggugah orang dari yang serius banget, bisa jadi nggak serius banget ya. Jadi dia bagian dinamika dari kehidupan, dan dinamika juga bagian dari musik. Jadi dangdut itu mewarnai dari genre musik lainnya juga," pungkas Ikke Nurjanah.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed