Mitratel dan TBIG Berpotensi Merger Bentuk Pengelola 65 Ribu Menara

Smallest Font
Largest Font

Rencana penggabungan usaha antara PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) kembali mencuat pada Rabu (26/8/2026), dilansir dari Investor Daily. Isu konsolidasi bisnis ini menjadi katalis positif bagi pergerakan saham kedua perusahaan menara telekomunikasi tersebut.

Hasil riset Mirae Asset Sekuritas mencatat wacana merger kedua entitas sebenarnya sudah mengemuka sejak 2014. Jika integrasi ini terealisasi, entitas hasil penggabungan bakal mengoperasikan 65.800 menara telekomunikasi dengan total 106 ribu penyewa, sehingga mencerminkan rasio penyewaan (tenancy ratio) sebesar 1,61 kali.

Secara finansial, entitas hasil gabungan diproyeksikan mencetak laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) disetahunkan mencapai Rp13,7 triliun. Kenaikan margin EBITDA diperkirakan hingga 100 bps menjadi 83,9 persen, dengan total ekuitas gabungan mencapai Rp69,6 triliun.

Peta kepemilikan saham turut mengalami penyesuaian. Porsi 71,8 persen saham PT Telkom Indonesia Tbk di MTEL akan setara dengan 37,9 persen saham di perusahaan baru. Sementara itu, kepemilikan Bersama Digital Infrastructure Asia (BDIA) sebesar 81,3 persen di TBIG bakal terkonversi menjadi 38,4 persen di perusahaan gabungan, menjadikannya pemegang saham terbesar.

Tetapi, kami prediksi MTEL tetap menjadi perusahaan hasil merger, karena status anak BUMN dan punya hubungan dengan Danantara. Telkom kemungkinan memegang 51% saham perusahaan hasil merger, tulis tim riset Mirae Asset Sekuritas pada Rabu (26/8/2026).

Dalam skenario tersebut, harga saham MTEL diproyeksikan berpotensi melonjak hingga Rp964 per lembar, atau naik 119 persen dari posisi saat riset dibuat. Skema ini setara dengan valusi EV/EBITDA 2026 sebesar 12,8 kali, naik dari posisi saat ini sebesar 7,2 kali untuk MTEL dan 10,5 kali untuk TBIG.

Guna mencapai porsi kepemilikan 51 persen bagi pilar BUMN, MTEL diprediksi perlu menerbitkan saham baru untuk menyerap ekuitas TBIG senilai Rp32,9 triliun. Danantara bersama Telkom diproyeksikan menyerap 42,3 miliar saham baru tersebut dengan nilai transaksi mencapai Rp18,6 triliun.

Mirae Asset Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi netral untuk sektor menara telekomunikasi akibat tekanan pada tarif sewa MTEL dan TOWR dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, rekomendasi beli tetap diberikan untuk saham TOWR dengan target Rp700, saham MTEL dengan target Rp670, serta saham TBIG dengan target Rp1.700.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed