Kurs Rupiah 30 Juli 2026 Melemah ke Rp 18.075 per Dolar AS

Smallest Font
Largest Font

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali dibuka melemah pada awal perdagangan Kamis, 30 Juli 2026. Mata uang Garuda tertekan tipis sejak pembukaan pasar spot.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, nilai tukar rupiah dibuka merosot 2 poin atau 0,01 persen. Hal ini menempatkan rupiah berada pada posisi Rp 18.075 per dolar AS.

Pergerakan ini membalikkan arah perdagangan sebelumnya. Dikutip dari Investor Daily, rupiah sempat ditutup menguat tipis 10 poin atau 0,06 persen ke posisi Rp 17.073 per dolar AS pada Rabu, 29 Juli 2026.

Penguatan mata uang Paman Sam di pasar Asia terjadi setelah Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan. Indeks dolar AS menguat 0,1 persen menuju level 100,89.

Eskalasi ketegangan geopolitik turut menahan pelemahan dolar AS lebih lanjut. Kondisi tersebut terjadi setelah Amerika Serikat menyatakan rencana peluncuran kembali serangan udara di wilayah Iran.

Pergerakan Mata Uang Global

Tekanan mata uang tidak hanya dialami oleh rupiah. Sejumlah mata uang utama dunia juga tercatat mengalami pelemahan terhadap dolar AS pada hari yang sama.

Poundsterling Inggris terdepresiasi 0,1 persen menjadi US$ 1,3355 per dolar AS menjelang pengumuman keputusan suku bunga Bank of England. Mata uang euro turut terkoreksi 0,1 persen ke posisi US$ 1,1457 per dolar AS.

Mata uang pasifik menunjukkan pergerakan yang cenderung rata. Dolar Australia bertahan di level US$ 0,6959 per dolar AS, sedangkan dolar Selandia Baru berada pada kisaran US$ 0,5795 per dolar AS.

Yen Jepang terpantau bergerak stabil tanpa perubahan signifikan. Mata uang Negeri Sakura tersebut berada di level 163,455 per dolar AS.

Sikap Investor Terhadap Kebijakan The Fed

Analis pasar IG di Sydney, Fabien Yip, memberikan catatan terkait dinamika pasar uang usai pengumuman bank sentral AS. Kebijakan tersebut dinilai memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.

"Meskipun ada tiga perbedaan pendapat di komite yang mendukung kenaikan suku bunga pada bulan Juli, Ketua The Fed Kevin Warsh tidak memberikan sinyal kenaikan suku bunga yang akan segera terjadi, menggemakan nada yang sama seperti bulan Juni," kata Fabien Yip.

Sikap ragu-ragu bank sentral tersebut memicu spekulasi baru di pasar finansial. Investor mulai mempertanyakan efektivitas kebijakan moneter dalam mengendalikan laju inflasi jangka panjang.

"Hal itu mulai membuat investor gelisah: The Fed yang tidak mau berkomitmen untuk pengetatan lebih lanjut menimbulkan pertanyaan apakah mereka dapat menjaga ekspektasi inflasi jangka panjang tetap terkendali," tambahnya.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed