Kualitas Udara Malaysia Memburuk Dampak Kabut Asap Karhutla Indonesia

Smallest Font
Largest Font

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah Indonesia berdampak hingga ke negara tetangga, Malaysia. Sistem Manajemen Indeks Polutan Udara Malaysia mencatat empat wilayah di Sarawak memasuki kategori berbahaya per Senin (31/8/2026) pukul 20.00 waktu setempat.

Kategori berbahaya yang ditandai dengan angka Indeks Polutan Udara di atas 300 tersebut melanda Seran dengan indeks 433, Kuching 381, Samarahan 352, serta Sri Aman 339. Wilayah Sarikei, Sibu, Mukah, dan Samalaju berada dalam status sangat tidak sehat, sementara 13 daerah lain tercatat masuk kategori tidak sehat.

Kementerian Kesehatan Malaysia mengimbau warga untuk membatasi aktivitas di luar rumah dan memperkuat kesiapsiagaan fasilitas kesehatan serta pasokan medis. Pemerintah Malaysia juga mendorong penyelesaian masalah asap lintas batas melalui jalur kerja sama kawasan ASEAN.

Pemerintah Indonesia merespons penanganan kebakaran lahan dengan mengoordinasikan tim gabungan pemadam kebakaran, badan penanggulangan bencana, TNI, dan Polri, serta mengoperasikan modifikasi cuaca. Badan Nasional Penanggulangan Bencana menekankan penanganan karhutla membutuhkan tindakan bersama antarnegara tanpa saling menyalahkan.

"Jadi pendekatan kita bukan saling menyalahkan, tetapi bagaimana masing-masing negara melakukan upaya maksimal di wilayahnya dan bersama-sama mengurangi dampak asap lintas batas," ujar Berton Pandjaitan, Plt Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menjelaskan pergerakan asap karhutla dari Kalimantan menuju Sarawak dipicu oleh pola dan arah angin. Pihaknya menegaskan komitmen pemerintah untuk mencegah dampak pencemaran kabut asap lintas negara.

"Arah anginnya kebetulan memang naik ke atas. Kalau seandainya arah anginnya dari sini, ini menurut teman-teman dari LH juga, ini kebakaran yang terjadi di sini juga akan masuk ke Indonesia. Karena emang asap enggak ada KTP-nya gitu," kata Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan.

Pemerintah terus berupaya menanggulangi titik api meski terkendala minimnya ketersediaan sumber air di lapangan. Pemadaman melalui satgas darat dinilai lebih efektif jangkauannya dibandingkan metode bom air yang dikerahkan TNI Angkatan Udara.

"Jadi tetap saja kita akan berjuang semaksimal mungkin ya kita tidak akan memberikan dampak negatif atau mudarat kepada tetangga kita," kata Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan.

Langkah penegakan hukum juga ditempuh Direktorat General Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan dengan memproses 30 kasus dugaan pidana. Pengawasan intensif dilakukan terhadap 52 pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan, dengan enam di antaranya telah dijatuhi sanksi berat.

"Ada 52 pemegang apa namanya PBPH yang juga sudah diberikan peringatan, pengawasan secara intensif dan enam di antaranya sudah diberikan sanksi berat," jelas Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan.

Upaya pemadaman terus berlanjut di titik-titik rawan Sumatra dan Kalimantan. Penanganan di lokasi seperti pinggir jalan tol Sumatra Selatan menjadi perhatian khusus satgas darat.

"Dari segi teknis insya Allah apa yang diminta oleh teman-teman daerah terpenuhi, namun realitas di lapangan sumber air tetap menjadi kendala ya meskipun tadi sumur bor sudah datang," kata Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan.

Ketiadaan pasokan air yang dekat dengan lokasi kebakaran membuat perambatan api meluas sebelum sempat dipadamkan secara menyeluruh oleh tim lapangan.

"Sumber airnya ini yang jadi masalah ya semacam kemarin saya dari Sumsel ada kebakaran di pinggir tol dengan Pak Dirjen kemarin. Kemarin ini di pinggir tol karena kita apa namanya sumber air cuma ada satu sementara kebakarannya sudah apa ya sudah menjauh ke mana tapi sumber air cuma ada satu," tutur Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan.

Penggunaan bom air tetap difokuskan pada daerah yang sulit dijangkau melalui jalur darat guna memaksimalkan cakupan pemadaman.

"Satgas darat ini jauh lebih efektif memadamkan api ketimbang water bombing. Water bombing itu hanya bisa memadamkan 2,5 hektar saja sedangkan satgas darat mampu memadamkan 17,5 hektar," kata Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed