Krisis Energi Global Mengancam Usai Cadangan Minyak IEA Menyusut

Smallest Font
Largest Font

Eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran mengancam ketahanan energi global setelah cadangan minyak pemerintah negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) diperkirakan hanya mampu menutup defisit pasokan selama enam bulan, sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Jumat (14/8/2026). Konflik tersebut telah menghilangkan sekitar 2,6 miliar barel minyak dari pasar dunia sejak awal pertempuran. Angka tersebut setara dengan 25 hari tingkat konsumsi minyak global sebelum perang, yang berada pada angka 103 juta barel per hari.

Kesenjangan riil antara pasokan dan kebutuhan diperkirakan oleh sebagian besar analis mencapai 5 juta barel per hari, meski Kepala Saudi Aramco sempat memproyeksikan potensi hilangnya pasokan dari kawasan Teluk hingga 11 juta barel per hari. Risiko gangguan pasokan kian diperparah oleh lumpuhnya operasional pipa Caspian Pipeline Consortium akibat serangan drone Ukraina pada Juli yang menghentikan aliran 1,8 juta barel per hari.

Lembaga IEA secara keseluruhan mencatat masih ada total 1,5 miliar barel stok minyak yang terdiri atas persediaan komersial dan cadangan pemerintah. Setelah pelepasan 400 juta barel pada Maret lalu, persediaan pemerintah yang dapat dipakai secara langsung saat ini tersisa 900 juta barel karena stok komersial berada di luar wewenang IEA.

Tekanan pasokan diperberat oleh merosotnya Strategic Petroleum Reserve milik Amerika Serikat ke tingkat terendah sejak Januari 1983. Kondisi infrastruktur yang memburuk membuat sepertiga dari total sisa cadangan pemerintah IEA yang berada di AS tersebut sulit diakses sepenuhnya. Laporan dari Government Accountability Office AS pada Mei menunjukkan sekitar seperempat cadangan tak dapat diakses. Analis Rapidan Energy memperkirakan kendala operasional tersebut menahan lebih dari 100 juta barel minyak, sehingga persediaan efektif AS sebesar 200 juta barel hanya mampu menopang defisit global selama 40 hari.

Keterbatasan juga meluas pada produk hasil olahan, di mana persediaan global untuk diesel dan bahan bakar jet berada pada level terendah dalam rentang lima tahun terakhir menurut data Morgan Stanley. Di sisi lain, China dan Jepang tercatat memiliki posisi cadangan darurat yang jauh lebih kuat, dengan stok minyak mentah China diperkirakan mencapai 1,7 miliar barel yang secara teoritis mampu menggantikan kebutuhan impor Selat Hormuz selama hampir satu tahun.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed