Konsumsi Pertamax Merosot 18 Persen Dipicu Migrasi ke Pertalite
Penyaluran bahan bakar minyak bersubsidi jenis Pertalite dan Solar melonjak signifikan sepanjang semester pertama tahun 2026 setelah konsumen beralih akibat kenaikan harga BBM nonsubsidi. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi mengonfirmasi fenomena pergeseran konsumsi ini dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI pada Kamis, 16 Juli 2026.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, realisasi penyaluran Pertalite per 30 Juni 2026 telah mencapai 13,96 juta kiloliter atau setara 47,68 persen dari total kuota tahunan sebesar 29,27 juta kiloliter. Sementara itu, Solar bersubsidi sudah terserap sebanyak 9,48 juta kiloliter atau mencapai 50,85 persen dari pagu tahunan sebesar 18,64 juta kiloliter.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menjelaskan bahwa lonjakan penyerapan pada kedua jenis bahan bakar PSO tersebut terjadi tepat setelah adanya penyesuaian harga pada lini produk Pertamax Series dan Dex Series.
“Posisi kenaikan saat ini memang di sektor [BBM bersubsidi] pascakenaikan jenis bahan bakar umum [JBU]; baik itu Dex Series dan kemudian Pertamax dan lain-lain. Terjadi kenaikan di mana masyarakat cenderung yang semula menggunakan BBM nonsubsidi beralih menjadi subsidi,” kata Wahyudi Anas, Kepala BPH Migas.
Data internal PT Pertamina Patra Niaga memperkuat indikasi pergeseran tersebut dengan mencatat lonjakan konsumsi Pertalite sebesar 9,4 persen atau sekitar 7.129 kiloliter per hari di atas rata-rata normal pada bulan Juli 2026. Sebaliknya, volume penyaluran Pertamax Series justru merosot tajam hingga 18 persen atau berkurang sekitar 4.476 kiloliter per hari dari rata-rata biasanya.
Perubahan ini otomatis mengubah lanskap proporsi konsumsi energi nasional, di mana pangsa pasar Pertalite melonjak menjadi 80,4 persen dari total serapan produk gasoline Pertamina pada Juli 2026, naik dari kisaran 75,4 persen pada periode Januari hingga Mei 2026. Direktur Pemasaran PT Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto menjabarkan rincian pergeseran pasar tersebut secara mendalam di hadapan parlemen.
“Kalau secara komposisi perubahannya, pada saat periode Januari—Mei, kondisi untuk produk JBKP Pertalite secara komposisi sekitar 75% saat ini sudah bergeser ke 80%. Jadi hampir 5% komposisi BBM gasoline itu sudah bergeser ke BBM PSO [bersubsidi],” terang Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran PPN.
Dampak dari migrasi massal ini sangat menekan performa penjualan segmen komersial non-subsidi milik Pertamina di pasar domestik.
“Dampaknya, saat ini konsumsi produk-produk JBU atau nonsubsidi khususnya Pertamax series mengalami penurunan hampir 18% dibandingkan dengan periode normal,” tambah Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran PPN.
Pemicu utama dari gelombang migrasi konsumen ini disinyalir merupakan dampak langsung dari kebijakan penyesuaian harga jual Pertamax pada 10 Juni 2026 lalu, yang mengalami kenaikan sebesar 32 persen hingga menyentuh level Rp16.250 per liter.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow