Konsumsi Pertalite Melonjak 9,4 Persen Usai Harga Pertamax Naik
PT Pertamina Patra Niaga melaporkan adanya perubahan signifikan pada pola konsumsi bahan bakar minyak masyarakat yang beralih dari jenis non-subsidi ke subsidi di seluruh Indonesia pada Kamis, 16 Juli 2026.
Pergeseran ini terjadi setelah penyesuaian harga produk non-subsidi, yang kemudian memicu lonjakan permintaan Pertalite hingga mencapai 9,4 persen dibandingkan dengan kondisi operasional normal.
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, menjelaskan situasi pergeseran pasar bensin tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta.
"Pertamina melakukan penyesuaian harga, khususnya BBM JBU (non-subsidi) pada 18 April yang lalu. Telah terjadi perubahan perilaku konsumen untuk konsumsi BBM, yang saat ini terjadi peningkatan konsumsi BBM, khususnya produk BBM PSO (subsidi), baik itu Pertalite maupun Biosolar," ujar Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga.
Akibat perubahan perilaku ini, porsi penjualan produk Pertalite kini mendominasi hingga sekitar 80 persen dari total konsumsi bensin nasional.
"Jadi hampir 5 persen komposisi BBM gasoline itu sudah bergeser kepada BBM PSO," kata Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga.
Lembaga penyalur di berbagai wilayah juga diharuskan memperkuat stok guna mengantisipasi antrean panjang kendaraan roda dua maupun roda empat.
"Ini membuat perubahan operasi dari Pertamina Patra Niaga untuk bisa meng-cover atau mem-build up stock di semua jaringan lembaga penyalur kita, khususnya SPBU," kata Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga.
Penurunan volume penjualan bensin non-subsidi secara nasional tercatat mencapai kisaran 18 persen setelah kebijakan harga baru diterapkan.
“Jadi hampir 5 persen komposisi BBM gasoline [bensin] itu sudah bergeser kepada BBM PSO [subsidi]. Dampaknya adalah saat ini produk-produk BBM [Jenis BBM Umum] JBU (nonsubsidi), khususnya Pertamax Series, terjadi penurunan hampir 18 persen,” kata Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga.
BPH Migas turut mengonfirmasi peningkatan porsi Pertalite dari angka awal sebesar 75,4 persen menjadi 80,3 persen pada periode Juli.
“Sejak Pertamina melakukan penyesuaian harga khususnya BBM JBU per 18 April yang lalu telah terjadi perubahan perilaku konsumen untuk konsumsi BBM yang saat ini terjadi peningkatan konsumsi BBM khususnya produk BBM PSO, baik itu Pertalite maupun biosolar,” ujar Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga.
Selain lini bensin, lonjakan sebesar 13,9 persen juga melanda konsumsi solar subsidi akibat rembesan kendaraan dari sektor industri.
“Perilaku ini selain juga perubahan shifting dari konsumen ke sektor kendaraan, juga ada beberapa sektor kendaraan yang didominasi industri juga mulai mengisi Biosolar di SPBU. Ini salah satu terjadi peningkatan lonjakan hampir di semua provinsi sepanjang periode April hingga bulan Juli,” kata Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga.
Data sekunder dari rilis pers menunjukkan penurunan porsi Pertamax ke angka 18,8 persen dari posisi awal sebesar 23,2 persen.
"At present, BBM JBU (non-subsidized) products, especially the Pertamax Series, have seen a nearly 18% decrease compared to the period before the price adjustment," kata Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga.
Pertamina menegaskan pasokan harian tetap dikelola dengan aman agar kebutuhan masyarakat di SPBU dapat terpenuhi.
"The impact of the Pertamax price adjustment on June 10 has led to a shift of consumers to Pertalite, but it is still manageable and the stocks at gas stations are sufficient," kata Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga.
Penyesuaian operasional logistik terus diperketat pada setiap Marketing Operation Region demi mengamankan ketersediaan pasokan.
"Sejak Pertamina melakukan penyesuaian harga khususnya BBM JBU per 18 April yang lalu telah terjadi perubahan perilaku konsumen untuk konsumsi BBM yang saat ini terjadi peningkatan konsumsi BBM khususnya produk BBM PSO baik itu Pertalite maupun Biosolar," kata Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga.
Pangsa pasar Pertamax Turbo tercatat menyusut ke angka 0,7 persen sementara Pertamax Green 95 naik tipis menjadi 0,2 persen.
"Jadi hampir 5% komposisi BBM gasolin itu sudah bergeser ke BBM PSO. Dampaknya adalah saat ini produk-produk BBM JBU khususnya Pertamax Series terjadi penurunan hampir 18% dibandingkan periode sebelumnya," ujar Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga.
Pihak manajemen distribusi terus berupaya membangun cadangan guna mengatasi lonjakan permintaan di berbagai provinsi.
"Perilaku ini selain juga perubahan shifting dari konsumen ke sektor kendaraan juga ada beberapa sektor kendaraan yang didominasi industri juga mulai mengisi ke Biosolar di SPBU. Ini salah satu terjadi peningkatan lonjakan hampir di semua provinsi sepanjang periode April hingga bulan Juli," katanya Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga.
Langkah taktis penambahan pasokan dilakukan di seluruh jaringan ritel demi menghindari risiko kekosongan stok di lapangan.
"Ini salah satu lonjakan demand di berbagai wilayah khususnya di setiap MOR yang saat ini juga membuat perubahan operasi dari Pertamina Patra Niaga untuk bisa meng-cover build-up stock di semua jaringan lembaga penyalur kita khususnya SPBU," ujar Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga.
Penjualan biosolar kini mendominasi segmen diesel dengan proporsi mencapai 94,2 persen dari total konsumsi nasional.
“Perilaku ini selain juga perubahan shifting dari konsumen ke sektor kendaraan juga ada beberapa sektor kendaraan yang didominasi industri juga mulai mengisi ke biosolar di SPBU. Ini salah satu terjadi peningkatan lonjakan hampir di semua provinsi sepanjang periode April hingga bulan Juli,” tegas Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga.
Merespons kendala distribusi di beberapa wilayah seperti Sumatra Utara dan Kalimantan Barat, Kementerian ESDM memberikan tanggapan resmi mengenai keandalan pasokan nasional.
“[Hal] yang pertama, ketersediaan BBM di terminal terpadu. Ini pengiriman itu relatif lancar. Kemudian distribusi dari terminal terpadu ke SPBU-SPBU ada hambatan transportasi atau bagaimana.
Ya, kita juga sudah turunkan tim ke lapangan. Jadi, untuk ini ya kita akan selesaikan permasalahan ada antrean-antrean di SPBU di beberapa daerah,” kata Yuliot Tanjung, Wakil Menteri ESDM.
Sejumlah laporan dari masyarakat di media sosial mengeluhkan adanya kekosongan pasokan Pertalite di wilayah Kota Medan.
“Fakta lapangan tidak demikian. Puluhan SPBU terutama kota medan mengalami kekosongan BBM dari hari Jumat [pekan lalu] sampai sekarang,” tulis Wandy, Warganet.
Keluhan serupa mengenai kelangkaan pasokan bensin penugasan ini juga disuarakan oleh konsumen di wilayah Sumatra Utara lainnya.
“Minyak [Pertalite] langkah [di] Sumut,” tulis Fadel, Warganet.
Permintaan bantuan penyelesaian masalah distribusi ini pun terus disampaikan oleh masyarakat kepada pihak berwenang melalui kolom komentar.
“Langkah BBM di Sumut, tolong Bang,” tulis Rinaldi, Warganet.
Ekonom turut memberikan pandangan terkait dampak disparitas harga yang terlalu lebar terhadap beban fiskal negara dan daya beli masyarakat.
“Pengguna Pertamax 92 bukan cuma orang kaya, tetapi juga kelas menengah rentan. Ada pekerja, pegawai, guru, ojol, dan jutaan kelas menengah yang selama ini memilih BBM yang lebih baik untuk kendaraannya. Ketika margin kenaikannya terlalu jauh, opsinya adalah membayar lebih mahal, atau turun ke Pertalite,” kata Media Wahyudi Askar, Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (Celios).
Sebagai informasi tambahan, beberapa data pendukung dalam riset ini menggunakan rujukan dokumentasi dari media afiliasi.
"Disclosure: This is an AI-generated translation of the original article. We strive for accuracy, but please note that automated translations may contain errors or slight inconsistencies." tulis Databoks, Media Data.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow