Iran Serukan Perang Berakhir NATO Tingkatkan Keamanan Eropa
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan perang di Timur Tengah melawan Amerika Serikat sudah saatnya diakhiri, sementara Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) meningkatkan kesiapsiagaan menyusul ancaman serangan Iran terhadap fasilitas militer AS di Eropa pada Sabtu (22/8/2026). Pernyataan Pezeshkian muncul di tengah kebuntuan diplomasi, penutupan sebagian Selat Hormuz oleh Teheran, dan langkah blokade balasan armada angkatan laut Washington terhadap Iran. Pezeshkian menilai Iran berada pada posisi yang jauh lebih menguntungkan ketimbang Amerika Serikat dalam konflik yang berlarut-larut tersebut.
"Lebih baik kita mengakhiri perang ini sekarang karena kita berada dalam posisi yang kuat dan bermartabat," kata Pezeshkian dalam pertemuan dengan para dokter di Iran, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (22/8/2026).
Ia menekankan bahwa dukungan internasional berpihak pada negaranya atas kerusakan fasilitas publik akibat serangan militer Washington.
"Seluruh dunia mengakui kemenangan kita dan menekankan bahwa Amerika telah menyerang sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur kita dengan melanggar semua peraturan dan dibenci di seluruh dunia," imbuhnya.
Penegasan Iran juga disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengenai ketahanan militer Teheran dalam menghadapi tekanan diplomasi dan serangan lapangan.
"Mereka yang menuntut penyerahan diri tanpa syarat, tak lama setelah perang dimulai, justru memohon untuk melakukan negosiasi," kata Araghchi, sebagaimana dilaporkan Anadolu Agency.
Araghchi menyebut Teheran memegang kendali penuh atas taktik perundingan dan pertempuran secara bersamaan.
"Kami bertempur dengan kekuatan, dan kami melakukan negosiasi dengan kekuatan," ujar Araghchi.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul desakan penyerahan diri yang terus dilontarkan pihak Gedung Putih.
"Mereka seharusnya mengibarkan bendera putih tanda menyerah," kata Trump dalam wawancara tersebut.
Tindakan tegas Iran juga disampaikan Kementerian Luar Negeri Iran dalam menanggapi rencana penambahan sanksi ekonomi oleh Washington.
"Para pelaku dan penghasut sanksi ini pantas diadili dan dihukum karena melakukan kejahatan keji tersebut," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media pemerintah Iran.
Di sisi lain, pejabat intelijen mengidentifikasi adanya perubahan struktur dan koordinasi pertahanan Iran di bawah Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dan Kepala Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Ahmad Vahidi.
Penasihat senior Iran Mohammad Mokhber menegaskan pergeseran strategi militer Teheran menuju operasi yang lebih agresif.
"Strategi mengalihkan perang ke postur ofensif jika persyaratan Iran tidak dipenuhi niscaya akan mengubah keseimbangan kekuatan di dunia," tegasnya.
Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang baru, Mohsen Rezaie, menyuarakan pandangan senada untuk terus menekan pemerintahan AS.
"satu-satunya cara untuk mendapatkan konsesi dari AS adalah dengan melanjutkan pertempuran dan memberikan penderitaan konstan pada Trump," ungkap Rezaie.
Deputi Politik IRGC Brigadir Jenderal Yadollah Javani menguraikan potensi serangan taktis Iran di masa depan.
"Tindakan Iran bersifat defensif, meskipun mereka juga dapat mengambil aspek ofensif di masa depan," ucapnya.
Negosiator senior Iran Mohammad Baqer Qalibaf menekankan bahwa jalur pelayaran Selat Hormuz tidak akan dibuka tanpa pemenuhan syarat kunci oleh pihak lawan.
Peneliti Royal United Services Institute H.A. Hellyer mengamati dinamika penguasaan jalur Selat Hormuz oleh militer Iran.
"Mereka belum meresmikan kendali atas Selat Hormuz, dan sementara mereka tidak terburu-buru, mereka ingin menekan keunggulan mereka," ungkapnya.
Menanggapi ancaman ancaman penyerangan ke lokasi militer AS di Eropa, NATO mengonfirmasi kesiapan pasukannya dan mencegat empat rudal balistik Iran yang mengarah ke Turki sepanjang tahun ini.
"NATO siap menghadapi ancaman apa pun dan akan selalu melakukan apa yang diperlukan untuk membela semua Sekutu," kata pejabat NATO dalam sebuah pernyataan pada Rabu.
Menanggapi koordinasi pertahanan di kawasan Eropa tenggara, Menteri Dalam Negeri Bulgaria Ivan Demerdzhie menyatakan Bulgaria telah menyetujui penggunaan Pangkalan Udara Bezmer oleh AS dan meningkatkan status kewaspadaan.
"Kami terus memantau situasi dan perkembangan serta akan terus mengambil langkah-langkah pencegahan yang jauh lebih luas dan intensif daripada tingkat ancaman yang ditunjukkan oleh informasi yang tersedia saat ini," katanya.
Di pihak Amerika Serikat, Menteri Keuangan Scott Bessent menegaskan bahwa Washington sedang menggalang isolasi ekonomi berskala global terhadap Iran.
"Ini akan menjadi isolasi ekonomi terkoordinasi paling besar dalam sejarah dunia. Dan kami mendatangi mereka dengan pesan: apakah Anda berada di pihak kami atau melawan kami?" kata Bessent dalam pesannya kepada sekutu-sekutu AS, seperti dilansir AFP dan TRT World, Jumat (21/8/2026).
Bessent menyoroti pentingnya keterlibatan China untuk menjaga stabilitas jalur energi Teluk.
"Kami meyakini semua pihak ingin Selat (Hormuz) tersebut dibuka kembali, dan harga energi kembali turun. Perlu diingat bahwa China memperoleh 50 persen pasokan energinya dari kawasan Teluk. Jadi, akan sangat menguntungkan bagi mereka jika turut mendukung langkah ini," cetus Bessent.
Ia mengandaskan bahwa AS akan melumpuhkan aset ekonomi Iran guna menghentikan pendanaan kelompok proksi di kawasan.
"Jadi, inilah saatnya bagi sekutu-sekutu kami dan seluruh dunia untuk mengambil keputusan. Kita akan melumpuhkan perekonomian rezim pembunuh ini, yang akan membatasi kemampuan mereka untuk memproyeksikan kekuatan melalui proksi-proksi mereka," tegas Bessent dalam pernyataannya.
Upaya mediasi konflik saat ini masih terus digalang oleh sejumlah negara seperti Turki, Pakistan, Oman, dan Qatar untuk mencegah eskalasi militer lebih lanjut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow