Indonesia Perkuat Pengembangan CCS untuk Sektor Energi dan Industri
Pemerintah Indonesia bersama pelaku industri migas memperkuat komitmen pengembangan teknologi Penangkapan dan Penyimpanan Karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS) dalam forum International Indonesia CCS Forum 2026 di Jakarta pada Rabu, 26 Agustus 2026. Langkah strategis ini diambil untuk mendukung pencapaian target Net Zero Emission pada 2060 sekaligus mempertahankan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen. Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim Hashim Djojohadikusumo menyampaikan bahwa sebagian besar kekayaan pribadinya berasal dari bisnis energi fosil yang telah digelutinya selama puluhan tahun.
Meskipun saya adalah utusan khusus Presiden Indonesia untuk iklim dan energi, ini adalah rahasia umum, saya tidak menyembunyikan in, bahwa sebagian besar kekayaan pribadi saya ada di bahan bakar fosil, kata Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim.
Ia menegaskan bahwa Indonesia dapat mempercepat penurunan emisi tanpa harus mengorbankan agenda pertumbuhan ekonomi. Pak Prabowo merasa bahwa kita bisa mempercepatnya, tetapi Indonesia tidak ingin melakukan bunuh diri ekonomi. Kita ingin memiliki pertumbuhan setidaknya 8% dari beberapa tahun ke depan, dan salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan dan menggunakan semua yang kita miliki, termasuk bahan bakar fosil dan sumber energi, kata Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim.
Hashim juga menjelaskan potensi pemanfaatan CO2 sebagai bahan baku bernilai ekonomi tinggi, seperti pengembangan mikroalga untuk biofuel dan pakan ternak. Faktanya, karbon dioksida Anda akan menjadi aset positif, bukan liabilitas di neraca Anda. Ini adalah sesuatu yang ingin saya bagikan kepada Anda, kata Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim.
Dukungan regulasi dan sinergi lintas sektor juga ditegaskan oleh parlemen demi meningkatkan daya saing industri nasional. Dengan memperkuat sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, investor, dan mitra internasional, Indonesia dapat mempercepat implementasi CCS sekaligus menciptakan peluang investasi baru, meningkatkan daya saing industri nasional, dan mempercepat pencapaian target Net Zero Emissions, kata Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR. Dari sisi kelembagaan, pengembangan proyek penangkapan karbon terus menunjukkan tren positif melalui berbagai penguatan skema kerja sama.
Tantangan berikutnya memastikan seluruh elemen pendukung, mulai dari kebijakan, pembiayaan, infrastruktur, hingga pengembangan kapasitas, mampu berjalan secara selaras, kata Belladonna Troxylon Maulianda, Direktur Eksekutif Indonesia Carbon Capture and Storage Center (ICCSC).
Sementara itu, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menilai potensi geologi seperti Cekungan Asri (Asri Basin) di lepas pantai Laut Jawa sangat potensial menjadi pusat penampungan CO2 regional. Indonesia dapat menjadi jangkar bagi terbentuknya jaringan CCS regional. Pengembangan dalam skala regional dapat dimulai dari satu proyek jangkar, yang kemudian berkembang melalui pemanfaatan infrastruktur bersama, kata Dannif Danusaputro, Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE. Untuk mengimplementasikan jaringan penangkapan karbon secara luas, penyelarasan regulasi dan kesiapan seluruh rantai nilai menjadi syarat mutlak.
Seluruh rantai nilai harus direncanakan secara terintegrasi, mulai dari penangkapan, pengangkutan, terminal, jaringan pipa, hingga penyimpanan CO₂, kata Dannif Danusaputro, Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE.
PHE kini sedang menyiapkan perancangan teknis awal atau Front-End Engineering Design (FEED) beserta kajian keselamatan geomekanika sebelum memasuki tahap keputusan investasi akhir.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow