IHSG Berbalik Melemah Usai Dibuka Naik Akibat Tekanan Geopolitik

Smallest Font
Largest Font

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pembalikan arah ke zona merah hanya beberapa menit setelah dibuka menguat 0,17 persen di level 5.934,72 pada perdagangan Senin (13/7/2026). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pukul 09.00 WIB, pergerakan domestik ini terjadi di tengah bayang-bayang ketegangan geopolitik Timur Tengah serta penantian rilis data makroekonomi global.

Data transaksi awal menunjukkan sebanyak 223 saham mencatatkan penguatan, 96 saham melemah, dan 340 saham stagnan. Nilai transaksi awal tersebut dilaporkan mencapai Rp161,45 miliar dengan volume perdagangan sebesar 447,22 juta saham dalam 62.926 kali transaksi.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan bursa saham di kawasan Asia-Pasifik yang mayoritas bergerak di zona hijau pada awal pekan. Indeks Nikkei 225 di Jepang tercatat naik 0,28 persen, Topix menguat 0,72 persen, Kospi Korea Selatan bertambah 0,58 persen, sedangkan indeks S&P/ASX 200 Australia bergerak relatif datar.

Faktor penutupan Selat Hormuz dinilai masih membayangi pergerakan pasar saham global akibat potensi krisis energi. Namun, perhatian pelaku pasar diproyeksikan akan segera beralih pada rilis data inflasi Amerika Serikat dan musim laporan keuangan kuartal II-2026.

"potensi penutupan Selat Hormuz masih menjadi faktor yang membebani sentimen pasar. Namun, selama belum ada prospek nyata penutupan jalur pelayaran tersebut dalam beberapa bulan ke depan yang dapat memicu krisis energi global, perhatian investor akan lebih tertuju pada data inflasi AS, perkembangan kebijakan moneter, serta musim laporan keuangan perbankan." kata Ben Emons, Pendiri Fed Watch Advisors.

Musim laporan keuangan di Wall Street sendiri akan diramaikan oleh publikasi kinerja sejumlah perbankan besar seperti JPMorgan Chase, Goldman Sachs, hingga Citigroup. Analis pasar memperkirakan laba bersih perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 mampu tumbuh di atas 23 persen secara tahunan.

Selain sektor finansial, pergerakan pasar saham juga akan digerakkan oleh perkembangan investasi pada sektor teknologi. Tingginya adopsi teknologi kecerdasan buatan menjadi indikator utama yang terus dipantau oleh para investor global.

"sektor teknologi akan menjadi perhatian utama investor, khususnya terkait keberlanjutan dorongan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terhadap pertumbuhan laba perusahaan." ujar Larry Adam, Chief Investment Officer Raymond James.

Rencana investasi korporasi besar pada bidang kecerdasan buatan ini diproyeksikan akan terus dipertahankan hingga tahun 2028. Larry Adam menambahkan bahwa penyebutan teknologi kecerdasan buatan dalam paparan resmi perusahaan di 11 sektor industri telah melonjak hingga 98 persen secara tahunan.

"penggunaan AI telah memberikan manfaat nyata bagi dunia usaha sehingga tren investasinya masih akan verlanjut." kata Larry Adam, Chief Investment Officer Raymond James.

Setelah pembukaan pasar awal pekan ini, fokus pelaku pasar selanjutnya akan tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat periode Juni. Laporan inflasi tersebut dijadwalkan terbit pada Selasa waktu setempat dan menjadi rujukan penting bagi kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed