IHSG Melemah 0,60 Persen Jelang Pengumuman BI Rate 19 Agustus 2026

Smallest Font
Largest Font

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,60 persen atau 38,63 poin ke posisi 6.411,20 pada sesi pertama perdagangan 19 Agustus 2026 di Bursa Efek Indonesia, menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) terkait suku bunga acuan.

Nilai transaksi total di seluruh pasar mencapai Rp7,35 triliun dengan volume 21,43 miliar lembar saham dan frekuensi perdagangan 1,31 juta kali.

Sektor energi mengalami penurunan terdalam sebesar 1,35 persen, sementara sektor properti dan infrastruktur justru menguat masing-masing sebesar 1,51 persen dan 0,82 persen.

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) dan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) mencatat nilai transaksi tertinggi, Rp423 miliar dan Rp388 miliar. Harga saham INET stagnan di Rp292 per lembar, sedangkan saham KIJA melonjak 10,2 persen ke Rp183 per lembar, dilansir dari idnfinancials.com.

Investor asing mencatat penjualan bersih (net sell) sebesar Rp371,31 miliar pada sesi pertama, meningkat dibandingkan hari sebelumnya yang tercatat Rp355,17 miliar. Volume net sell asing mencapai 901,2 juta lembar saham.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan IHSG akan bergerak sideways di kisaran 6.400-6.500 pada perdagangan hari tersebut.

"IHSG diperkirakan akan bergerak sideways di kisaran 6.400-6.500 pada perdagangan Rabu," ujar Ratna Lim.

Ratna Lim menambahkan bahwa pelaku pasar bersikap wait and see menunggu hasil RDG BI yang diperkirakan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen, sesuai konsensus ekonom Bloomberg. Hal ini didukung oleh laju inflasi domestik yang masih dalam target BI serta upaya stabilisasi rupiah dan pertumbuhan ekonomi.

"Investor diperkirakan juga akan mencermati penjelasan Bank Indonesia mengenai arah-arah kebijakan selanjutnya," kata Ratna.

Dari sisi makroekonomi global, harga minyak mentah ditutup menguat terbatas karena pernyataan Iran yang akan tetap mempertahankan penutupan Selat Hormuz dan keputusan Amerika Serikat untuk tidak memperpanjang gencatan senjata, menurut jogja.antaranews.com.

Selain itu, imbal hasil obligasi di berbagai negara meningkat, termasuk AS, Jepang, Jerman, dan Prancis, yang menyebabkan saham sektor teknologi tertekan karena sensitif terhadap suku bunga.

Bursa saham utama di Eropa dan Amerika Serikat juga mencatatkan pelemahan pada perdagangan sebelumnya, sedangkan bursa regional Asia menunjukkan pergerakan beragam pada pagi hari 19 Agustus 2026.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed