IHSG Ditutup Melemah ke 6.185 Usai Pengunduran Diri Perry Warjiyo
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan Senin (27/7/2026). Tekanan pada indeks terjadi menyusul kabar pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia.
Dikutip dari Detik Finance, IHSG terkoreksi sebesar 10,64 poin atau 0,17 persen menuju level 6.185,77. Padahal, indeks saham domestik ini sempat menguat hingga menembus rentang 6.200 pada sesi perdagangan.
Pergerakan IHSG dibuka pada posisi 6.185,78 dan memuncak di level 6.219,41. Tekanan jual kemudian menyeret indeks hingga menyentuh titik terendahnya di posisi 6.144,27 sebelum akhirnya ditutup melandai.
Aktivitas perdagangan mencatatkan volume 27,75 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 12,15 triliun dari 1.818.403 kali frekuensi. Pergerakan emiten mencatat 307 saham menguat, 341 saham melemah, dan 147 saham stagnan.
Secara berkala, kinerja IHSG tercatat turun 0,74 persen dalam sepekan. Meski demikian, pergerakan indeks masih membukukan penguatan sebesar 6,27 persen dalam periode bulanan.
Dalam rentang waktu yang lebih panjang, indeks terpangkas 18,84 persen secara tiga bulanan dan minus 29,29 persen secara enam bulanan. Kinerja tahunan IHSG juga mencatatkan penurunan sebesar 9,46 persen.
Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti menilai pengumuman mundurnya Perry Warjiyo memberikan dampak langsung pada dinamika pasar keuangan nasional.
"Saya rasa ini akan berpengaruh pada stabilitas nilai tukar, IHSG dan pasar obligasi. Secara teori ekonomi sudah membuktikan bahwa setiap ada political announcement akan memengaruhi pergerakan pasar," kata Esther.
Esther menambahkan bahwa pengunduran diri tersebut berpotensi memengaruhi cara pandang investor terhadap independensi bank sentral. Situasi ini turut mempertaruhkan tingkat kepercayaan terhadap pemerintah.
"Pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memicu ketidakpastian pasar finansial global, potensi pelemahan otonomi bank sentral, serta transisi kepemimpinan otomatis ke Deputi Gubernur Senior," kata Esther.
"Selanjutnya, kredibilitas pemerintah juga akan dipertaruhkan karena Investor global merespons hati-hati karena kekhawatiran atas stabilitas kebijakan moneter di tengah tekanan nilai tukar," ujar Esther.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow