IHSG Diprediksi Menguat Terbatas pada Perdagangan 1 September 2026

Smallest Font
Largest Font

Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi mengalami penguatan terbatas pada perdagangan Selasa (1/9/2026). Pergerakan indeks diperkirakan berada pada rentang support dan resistance 6.440-6.635 sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Pada perdagangan Senin (31/8/2026), IHSG ditutup naik 7,36 poin atau 0,11% ke level 6.525. Sektor perindustrian memimpin penguatan sebesar 1,46%, sedangkan sektor kesehatan mengalami penurunan terdalam hingga 1,66%.

Analis melihat sejumlah sentimen global akan memengaruhi pergerakan pasar pekan ini, termasuk rilis data ISM Manufacturing dan Services Index dari Amerika Serikat yang diproyeksikan menurun. Selain itu, data ketenagakerjaan AS seperti US JOLTS Job Openings, Change in Nonfarm Payrolls, serta upah pekerja menjadi perhatian utama di tengah tekanan inflasi.

"Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance 6.440-6.635," tulis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasan, Selasa (1/9/2026).

Selain indikator ketenagakerjaan, data ekspor, impor, dan neraca perdagangan AS juga dijadwalkan rilis pada 3 September. Dari kawasan Eropa, proyeksi lonjakan inflasi diperkirakan mendorong Bank Sentral Eropa untuk menyesuaikan kebijakan moneter mereka.

"Ditemani bersama upah, dimana Average Hourly Eranings MoM dan YoY diproyeksikan mengalami kenaikkan yang menurut kami merupakan salah satu poin yang sangat positif untuk saat ini," tulis Pilarmas.

Tingkat pengangguran di Eropa diproyeksikan bertahan di level 6,3%. Sementara itu, Tiongkok menantikan rilis PMI Manufacturing serta data perdagangan luar negeri, sedangkan Jepang mencermati pertumbuhan GDP Annualized SA QoQ dan Deflator.

"Inflasi di Eropa, kami proyeksikan akan mengalami kenaikkan yang akan mendorong Bank Sentral Eropa untuk menaikkan tingkat suku bunga sebanyak 25 bps", ujar Pilarmas.

Dari dalam negeri, inflasi domestik diproyeksikan masih meningkat dengan kinerja ekspor dan impor yang diperkirakan tetap mengalami defisit. Volatilitas pasar berpotensi meningkat seiring eskalasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di Uni Emirat Arab yang telah berlangsung selama enam bulan.

Di sisi sosial ekonomi, Bank Dunia memproyeksikan 64,2% penduduk Indonesia pada 2026 hidup di bawah garis kemiskinan standar negara upper-middle income sebesar US$ 8,3 per kapita per hari (PPP 2021). Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi ke-4 di ASEAN dan peers, meski BPS mencatat tingkat kemiskinan resmi nasional sebesar 8,07% atau 22,93 juta jiwa pada Maret 2026.

"Kami menilai pemerintah perlu memastikan pertumbuhan ekonomi lebih inklusif melalui penciptaan lapangan kerja berkualitas, peningkatan produktivitas dan pendapatan riil, serta kebijakan perlindungan sosial yang tepat sasaran," tulis Pilarmas.

Untuk aktivitas transaksi saham harian, Pilarmas Investindo Sekuritas memberikan rekomendasi perdagangan pada saham NCKL, INET, dan BULL.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed