Emas Berperan Jadi Aset Cadangan Netral Dunia Multipolar
Emas kini memiliki keunggulan besar sebagai aset cadangan netral di tengah sistem dunia multipolar yang baru seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik global pada Selasa (14/7/2026).
Dilansir dari Investor Daily, pengelola cadangan devisa dunia saat ini mulai fokus melakukan diversifikasi karena posisi emas berada di luar sistem keuangan tradisional.
Mitra pengelola dan ahli strategi pasar di Sprott Inc, Paul Wong, menjelaskan dinamika pergeseran dominasi mata uang global dan peran krusial emas dalam sistem yang baru ini.
"Dolar AS mungkin tetap dominan dalam cadangan dan pendanaan sementara mata uang lain mendapatkan pengaruh dalam perdagangan, mata uang regional menjadi lebih penting, dan emas bertindak sebagai aset cadangan netral di antara berbagai blok yang bersaing. Oleh karena itu, para pengelola cadangan tampaknya fokus pada diversifikasi. Emas menempati posisi unik dalam kerangka kerja yang berkembang ini karena posisinya di luar sistem keuangan," ungkap mitra pengelola dan ahli strategi pasar di Sprott Inc, Paul Wong.
Wong menilai bahwa emas memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh aset kertas atau mata uang negara mana pun di dunia saat ini.
“Tidak seperti mata uang negara, emas tidak memiliki afiliasi politik. Tidak seperti obligasi pemerintah, emas tidak memiliki risiko pihak lawan. Tidak seperti deposito bank, emas tidak dapat dibekukan atau dikenai sanksi jika disimpan di dalam negeri," imbuh Paul Wong.
Menurut analisisnya, fungsi emas telah mengalami pergeseran yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir akibat situasi politik dunia.
“Perannya secara bertahap berkembang dari lindung nilai inflasi menjadi lindung nilai moneter, aset cadangan, dan berpotensi menjadi bentuk jaminan moneter," kata Paul Wong.
Ia memaparkan data IMF yang menunjukkan bahwa porsi cadangan emas dunia melonjak hingga mencapai kisaran 34% setelah terjadinya pembekuan aset devisa milik Rusia.
“Sejiak pembekuan atau penyitaan cadangan devisa Rusia dan meningkatnya kekhawatiran akan penurunan nilai mata uang global dan obligasi pemerintah, cadangan emas sebagai persentase dari total cadangan dunia telah melonjak ke level tertinggi baru sekitar 34%," beber Paul Wong.
Wong juga memaparkan fenomena penurunan harga emas yang kerap terjadi di tengah krisis likuiditas akut, seperti saat krisis finansial 2008 dan pandemi 2020.
"Selama periode tekanan pendanaan yang akut, pelaku pasar membutuhkan dolar AS. Untuk mendapatkan dolar tersebut, mereka sering menjual aset mereka yang paling likuid. Emas, sebagai salah satu aset cadangan yang paling likuid dan diincar di dunia, sering berfungsi sebagai sumber likuiditas.
Tren ini terjadi selama krisis keuangan 2008 dan guncangan pandemi Maret 2020, dan dapat terjadi lagi selama krisis dolar di masa mendatang. Namun tren ini bukan kegagalan bagi emas. Ini adalah emas yang menjalankan fungsinya sebagai cadangan (aset)," papar Paul Wong.
Meskipun demikian, fluktuasi harga jangka pendek untuk logam mulia ini dinilai masih akan sangat dipengaruhi oleh pergerakan mata uang dolar AS.
“Dalam jangka panjang, emas dan dolar AS dapat naik karena alasan yang sangat berbeda: emas mencerminkan meningkatnya permintaan akan aset cadangan netral dan penyimpan nilai, dan dolar mencerminkan peran sentralnya dalam sistem keuangan global,” kata Paul Wong.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow