Dosen UI Bantah Iklim Investasi Terburuk, Indikator Belum Hilangkan Kepercayaan Investor
JAKARTA, investor.id – Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Fithra Faisal Hastiadi berbeda pandangan dengan Ketua Dewan Guru Besar FEB UI Prof. Mohamad Ikhsan yang menilai iklim investasi Indonesia berada dalam kondisi terburuk sepanjang pengamatannya. Menurut Fithra, indikator terbaru belum menunjukkan hilangnya kepercayaan investor secara sistemik.
Fithra menghormati kritik Ikhsan, terutama terkait kepastian hukum, kualitas regulasi, dan konsistensi kebijakan. Namun, predikat “terburuk” dan nilai 2 dari skala 10 merupakan kesimpulan sangat kuat yang semestinya ditopang bukti empiris yang sepadan. “Makin kuat sebuah kesimpulan, makin kuat pula bukti empiris yang seharusnya menopangnya,” kata Fithra dalam tanggapannya yang diterima Investor Daily, Sabtu (22/8/2026).
Ia menunjukkan, realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun, tumbuh 12,7% secara tahunan (year on year/yoy). Pada semester I-2026, investasi mencapai Rp1.010,6 triliun, masih meningkat 7,2% (yoy). Pertumbuhannya memang melambat dibandingkan semester I-2025 yang mencapai 13,6%, tetapi moderasi berbeda dengan kontraksi. “Basis investasi kita makin besar, tetapi realisasinya masih terus mencatat pertumbuhan positif,” ujar dia.
PMA Justru Menguat
Fithra terutama menyoroti perkembangan penanaman modal asing (PMA). Pada kuartal I-2026, PMA mencapai Rp250 triliun, tumbuh sekitar 8,5% (yoy). Pada kuartal II-2026, PMA meningkat menjadi Rp257,7 triliun atau melonjak sekitar 27,4% (yoy).
Secara kumulatif, PMA semester I-2026 mencapai Rp507,6 triliun, meningkat 17,3% dari Rp432,6 triliun pada periode sama 2025. “Jadi, kita bukan sedang melihat arus investasi asing yang mengering. Sebaliknya, pertumbuhannya justru mengalami akselerasi yang cukup tajam,” tegas Fithra.
Menurut dia, PMA penting karena mencerminkan komitmen modal jangka panjang. Ketika investor membangun pabrik, smelter, data center, kawasan industri, membeli mesin, atau membentuk rantai pasok, keputusan tersebut mempertaruhkan modal untuk prospek ekonomi bertahun-tahun ke depan. “Investor pada akhirnya melakukan voting bukan dengan kata-kata, tetapi dengan capital commitment,” kata Fithra.
Data Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga memperlihatkan kecenderungan serupa. PMTB tumbuh 5,96% (yoy) pada kuartal I-2026 dan berakselerasi menjadi sekitar 6,87% pada kuartal II.
Menurut Fithra, jika iklim investasi benar-benar berada pada titik terburuk, semestinya terlihat pola konsisten berupa foreign direct investment (FDI) yang jatuh, perusahaan menahan ekspansi, pembelian barang modal melemah, serta PMTB melambat tajam atau bahkan berkontraksi. “Tetapi data semester pertama 2026 belum menunjukkan pola tersebut,” ujar dia.
Alarm Berbeda dengan Diagnosis
Meski demikian, Fithra mengakui pekerjaan rumah Indonesia masih besar. Kepastian regulasi, konsistensi kebijakan, transparansi, kualitas institusi, birokrasi, level playing field, dan prediktabilitas kebijakan harus terus diperbaiki.
Ia juga mengingatkan investasi tidak cukup dinilai berdasarkan jumlah modal yang masuk, tetapi juga apakah investasi tersebut produktif, padat teknologi, menciptakan pekerjaan berkualitas, menghasilkan transfer pengetahuan, serta meningkatkan produktivitas.
“Kritik keras harus kita dengarkan sebagai alarm agar reformasi tidak berhenti. Tetapi bagi saya, alarm berbeda dengan diagnosis,” katanya.
Sebelumnya, Prof. Mohamad Ikhsan memberikan nilai 2 dari skala 10 terhadap iklim investasi Indonesia dalam Suar Forum 2026 di BSD City, Tangerang, Jumat (21/8/2026). “To be honest with all of you, berdasarkan pengamatan saya, ini adalah kondisi yang the worst, paling buruk, sepanjang observasi saya,” ujar Ikhsan.
Ia menilai Indonesia sebenarnya mempunyai potensi ekonomi sangat besar. Namun, kesenjangan antara potensi dan realisasi makin melebar. Ia juga menyoroti persoalan trust and credibility, transparansi dan kredibilitas data, serta pentingnya menjaga kompetisi.
Fithra tidak menafikan kritik tersebut. Namun, ia menilai persoalan kualitas institusi perlu dibedakan dari diagnosis mengenai kondisi aktual investasi. “Persepsi patut didengar. Institusi harus terus diperbaiki. Tetapi data juga harus diberi kesempatan untuk berbicara,” ujar dia.
Dengan investasi semester I-2026 masih tumbuh 7,2%, PMA meningkat 17,3%, PMA kuartal II melonjak 27,4%, dan PMTB tumbuh 6,87%, Fithra menilai, data belum menggambarkan investor meninggalkan Indonesia. “Apakah benar ia sedang berada pada titik terburuk? Untuk sebuah kesimpulan sekeras itu, saya kira angka-angka terbaru justru bercerita sebaliknya,” pungkas Fithra.
Editor: Nasori
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Guru Besar UI Nilai Iklim Investasi RI di Titik Terburuk
Dugaan Kartel Industri Dibahas dalam FGD Lintas Sektor
Proyek Transportasi Water Taxi Dorong Investasi di Bali
National 27 menit yang lalu Ribuan Porsi Makanan Siap Saji Didistribusikan untuk Korban Gempa NTT Baznas salurkan 1.900 porsi makanan siap saji dan buka posko kesehatan untuk pengungsi gempa bumi di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
National 55 menit yang lalu Atasi Karhutla, Modifikasi Cuaca Dilakukan di Kaltim Selama 5 Hari BMKG menyiapkan sebanyak 8 ton garam halus untuk modifikasi cuaca guna mengatasi karhutla di Kalimantan Timur selama lima hari ke depan.
International 1 jam yang lalu Taiwan Desak Pembaruan Perjanjian Investasi dengan Indonesia Taiwan desak percepatan pembaruan perjanjian investasi dengan Indonesia guna lindungi perusahaan teknologi tinggi dan dorong arus modal.
Macroeconomy 1 jam yang lalu Fithra: Data Belum Tunjukkan Iklim Investasi RI Terburuk “Kritik keras harus kita dengarkan sebagai alarm agar reformasi tidak berhenti. Tetapi bagi saya, alarm berbeda dengan diagnosis,” katanya.
National 1 jam yang lalu Komdigi: 812 Infrastruktur Telekomunikasi BTS di NTT Telah Pulih Komdigi menyebut pemulihan infrastruktur telekomunikasi Base Transceiver Station (BTS) di wilayah terdampak gempa NTT sudah pulih.
National 1 jam yang lalu Tersangka Karhutla di Berau Terancam 12 Tahun Penjara Polres Berau tetapkan BS tersangka karhutla 12 ha di Pulau Derawan. Pelaku bakar lahan demi kebun sawit dan terancam 12 tahun penjara.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow