Curaweda Targetkan Delapan Museum AI Baru Hingga Akhir 2026
Startup teknologi Curaweda menargetkan pengoperasian tujuh hingga delapan museum serta pengalaman interaktif berbasis kecerdasan buatan di Indonesia hingga akhir tahun 2026. Proyek ekspansi ini mencakup wahana sejarah di berbagai daerah, sebagaimana dilansir dari Detik iNET.
Perusahaan saat ini telah mengelola lima lokasi aktif, termasuk di Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Keraton Kasepuhan Cirebon, Taman Mini Indonesia Indah, dan Purwacarita Borobudur di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta.
CEO Curaweda Azhar Muhammad Fuad menjelaskan bahwa dua lokasi baru sedang disiapkan untuk menambah portofolio tersebut.
"Insyaallah kita akhir tahun 2026 ini nanti akan punya tujuh atau delapan museum AI baru," ujar Azhar Muhammad Fuad, CEO Curaweda.
Pengembangan mendatang difokuskan di kota Bandung dan Jakarta. Azhar menyebutkan bahwa proyek di Jakarta akan menghadirkan konsep yang cukup berbeda.
"Satu di Bandung, satunya lagi nanti di Jakarta. Yang ini mungkin agak akan pecah nanti yang di Jakarta. Saya nggak bisa cerita dulu," kata Azhar Muhammad Fuad, CEO Curaweda.
Salah satu wujud ekspansi di Jakarta merupakan wahana interaktif bertema sejarah tanpa konsep hantu. Pengunjung dirancang menjadi gerilyawan yang memegang replika senjata, memecahkan teka-teki, serta merespons simulasi lingkungan yang imersif.
"Teman-teman akan bawa senjata satu banding satu. Semua set up, baunya, bau rumput, bau apa dan macam-macam. Dan teman-teman di-set up sebagai gerilyawan," jelas Azhar Muhammad Fuad, CEO Curaweda.
Sistem interaktif dan mikrofon akan memproses tindakan pengunjung hingga menentukan akhir cerita, namun alur utamanya tetap berpatokan pada sejarah.
"Ending dari filmnya tetap akurat sejarah. Tapi kita geser, tweak sedikit bagaimana teman-teman bisa menjalani si wahana tadi," ujarnya Azhar Muhammad Fuad, CEO Curaweda.
Wahana perang gerilya tersebut dijadwalkan meluncur pada November 2026. Di samping itu, tantangan utama pembuatan konten AI berada pada akurasi data sejarah.
"Yang paling susah adalah menjaga tingkat akurasinya," kata Azhar Muhammad Fuad, CEO Curaweda.
Proyek Purwacarita Borobudur yang dimulai sejak 2025 melibatkan kajian dari Museum dan Cagar Budaya serta validasi akademis dari Universitas Gadjah Mada.
"Kami develop ini sampai sembilan kali revisi. Sembilan kali revisi dengan waktu empat bulan. Dan melibatkan lebih dari 14 pakar," ujarnya Azhar Muhammad Fuad, CEO Curaweda.
Proses kurasi tetap berlangsung ketat hingga menjelang peluncuran resmi wahana tersebut.
"Final review itu sebenarnya masih ada 14 catatan panjang," ujar Sri Margana, Kurator dari Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM.
Catatan tersebut mencakup pemeriksaan visual seperti kostum, karakter, hingga peralatan yang harus sesuai relief dan artefak asli. Curaweda menegaskan akan terus fokus pada sektor sejarah dan budaya lokal.
"Nggak apa-apa niche market. Yang penting impact-nya ada dan ini bisa membantu dan impact-nya hidup," kata Azhar Muhammad Fuad, CEO Curaweda.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow