Curaweda Targetkan Delapan Museum Berbasis AI Hingga Akhir 2026
Startup teknologi asal Indonesia, Curaweda, menargetkan pengoperasian tujuh hingga delapan museum dan pengalaman berbasis kecerdasan buatan (AI) di Indonesia hingga akhir tahun 2026. Rencana ekspansi tersebut disampaikan oleh Chief Executive Officer Curaweda, Azhar Muhammad Fuad, sebagaimana dilansir dari Detik iNET.
Saat ini Curaweda telah mengoperasikan lima lokasi, mencakup proyek di Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Keraton Kasepuhan Cirebon, Taman Mini Indonesia Indah, serta Purwacarita Borobudur di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta. Perusahaan rintisan ini sedang menyiapkan dua proyek baru yang berlokasi di Bandung dan Jakarta.
"Insyaallah kita akhir tahun 2026 ini nanti akan punya tujuh atau delapan museum AI baru," ujar CEO Curaweda, Azhar Muhammad Fuad.
Proyek di Jakarta dirancang berbentuk wahana interaktif menyerupai labirin sejarah bertema perang gerilya. Pengunjung akan berperan sebagai gerilyawan yang membawa replika senjata, memecahkan teka-teki, serta memicu sistem AI hingga menghasilkan akhir cerita berbeda berbasis akurasi sejarah. Wahana tersebut dijadwalkan meluncur pada November 2026.
"Satu di Bandung, satunya lagi nanti di Jakarta. Yang ini mungkin agak akan pecah nanti yang di Jakarta. Saya nggak bisa cerita dulu," kata Azhar.
Untuk menjaga relevansi sejarah, proses produksi konten imersif seperti Purwacarita Borobudur melewati kurasi ketat yang melibatkan lebih dari 14 pakar, Museum dan Cagar Budaya, serta verifikasi dari Universitas Gadjah Mada.
"Teman-teman akan bawa senjata satu banding satu. Semua set up, baunya, bau rumput, bau apa dan macam-macam. Dan teman-teman di-set up sebagai gerilyawan," jelas Azhar.
Meskipun penulisan kode dan pembuatan visual berbasis AI dapat diselesaikan dalam kurun satu hingga dua bulan, penyusunan materi sejarah membutuhkan waktu kurasi berbulan-bulan hingga mengalami sembilan kali revisi.
"Ending dari filmnya tetap akurat sejarah. Tapi kita geser, tweak sedikit bagaimana teman-teman bisa menjalani si wahana tadi," ujarnya.
Pengembangan proyek Borobudur telah dimulai sejak 2025 melalui penelusuran sumber primer untuk memastikan seluruh elemen visual sesuai dengan relief dan artefak asli.
"Yang paling susah adalah menjaga tingkat akurasinya," kata Azhar.
Proses integrasi teknologi AI ini memerlukan keterlibatan lintas disiplin ilmu agar konten yang dihasilkan tetap netral dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.
"Kami develop ini sampai sembilan kali revisi. Sembilan kali revisi dengan waktu empat bulan. Dan melibatkan lebih dari 14 pakar," ujarnya.
Tahap peninjauan akhir proyek terus dilakukan hingga mendekati tanggal peluncuran guna meminimalkan kesalahan detail sejarah.
"Final review itu sebenarnya masih ada 14 catatan panjang," ujar Kurator Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Dr. Sri Margana.
Catatan evaluasi tersebut mencakup perbaikan aspek kostum, karakter fisik, flora, fauna, hingga alat musik tradisional agar tidak digambarkan secara bebas oleh sistem AI.
"Nggak apa-apa niche market. Yang penting impact-nya ada dan ini bisa membantu dan impact-nya hidup," kata Azhar.
Langkah ekspansi ini difokuskan untuk mengoptimalisasi pemanfaatan lebih dari 400 museum dan ribuan situs cagar budaya di Indonesia melalui modernisasi teknologi imersif.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow