Amman Mineral Manfaatkan AI dan Ahli untuk Optimalkan Produksi Tembaga
Amman Mineral Internasional mengandalkan kolaborasi antara kecerdasan buatan (AI) dan pengalaman para ahli untuk mengoptimalkan produksi tembaga di Indonesia, khususnya melalui proyek tambang Batu Hijau dan pengembangan smelter di Nusa Tenggara Barat, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
Perusahaan memperkirakan produksi mencapai 900.000 metrik ton konsentrat kering pada 2026, mengandung sekitar 220.000 ton tembaga dan 579.000 ons emas. Smelter tembaga yang baru selesai dibangun mampu mengolah hingga 900.000 metrik ton konsentrat per tahun, mendukung produksi katoda tembaga berkualitas tinggi serta produk pendukung lainnya.
Amman memandang tembaga sebagai mineral strategis yang permintaannya meningkat signifikan akibat percepatan elektrifikasi, energi terbarukan, dan teknologi kecerdasan buatan. Indonesia memiliki cadangan tembaga terbukti sebesar 21 juta ton dan merupakan produsen tembaga terbesar kelima dunia.
Komisaris Utama Amman, Agoes Projosasmito, menjelaskan, "Prospek industri tembaga global tetap positif. Peluang utama didorong oleh peran strategis tembaga dalam elektrifikasi, konstruksi, transportasi, teknologi energi terbarukan, serta komputasi berbasis AI."
Deputi Kebijakan Pembangunan BRIN, Nunung Nuryartono, mengemukakan bahwa daya saing industri mineral bergantung pada integrasi teknologi, tata kelola, dan keberlanjutan. "Hilirisasi bukan sekadar membangun smelter, tetapi membangun kecerdasan dan akuntabilitas pada setiap tahapan rantai nilai industri," ujarnya.
Nunung menambahkan, AI membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi produksi dan pengambilan keputusan berbasis data, namun harus diimbangi tata kelola yang baik agar tidak mengorbankan lingkungan dan kepercayaan publik.
Amman mengembangkan sistem AI bernama Artificial Intelligence Dashboard Automation (AIDA) yang membantu mengoptimalkan proses pengolahan mineral di pabrik. Sistem ini memanfaatkan data historis dan real-time untuk memberikan rekomendasi proses yang efisien dan meningkatkan tingkat perolehan mineral.
Direktur Utama Amman, Arief Widyawan Sidarto, menyatakan, "AI diterapkan perusahaan untuk mengoptimalkan tingkat perolehan dalam proses flotasi. AI mendorong efisiensi yang lebih tinggi melalui peningkatan hasil logam terhadap biaya penambangan dan pengolahan." Ia menambahkan, peningkatan ini mendukung penggunaan sumber daya yang lebih berkelanjutan.
AIDA tidak menggantikan manusia, melainkan memperkuat pengambilan keputusan melalui kolaborasi antara AI dan keahlian operasional. "Setiap empat jam, tim operasi dan metalurgi bersama meninjau rekomendasi AIDA untuk menentukan penyesuaian proses," kata Arief.
Vice President Corporate Communications Amman, Kartika Octaviana, menyatakan, "Keberhasilan ini terletak pada sinergi antara data, inovasi, dan keahlian tim kami. Ketika teknologi dan pengalaman manusia berjalan beriringan, kami mampu menghasilkan keputusan yang lebih baik dan menciptakan nilai yang lebih besar."
Amman meningkatkan mineral recovery sekitar 2,5% melalui optimalisasi berbasis AI, pencapaian penting untuk operasi Batu Hijau yang sudah memiliki tingkat recovery terbaik di kelasnya.
Didit, bagian dari tim metalurgi Amman, turut mengembangkan inovasi Controlled Potential Sulfidisation (CPS) dengan sensor Oxidation Reduction Potential (ORP) untuk mengatasi penurunan perolehan tembaga pada bijih stockpile akibat oksidasi. Inovasi ini berhasil meningkatkan recovery tembaga signifikan sekaligus menurunkan konsumsi bahan kimia hingga 18,3%.
Keberhasilan inovasi ini dipresentasikan dalam konferensi metalurgi MetPlant 2026 di Adelaide, Australia, yang menjadi ajang pertukaran praktik terbaik dalam pengolahan mineral.
Didit menuturkan, "Budaya kerja positif dan dukungan pimpinan menjadi kunci lahirnya inovasi ini. Ini bukti semangat lokal Sumbawa Barat menghasilkan karya teknis yang diakui secara global."
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow