CSIS Soroti Penurunan Kemampuan Investasi dalam Menciptakan Lapangan Kerja

Smallest Font
Largest Font

Penulis : Bambang Ismoyo 15 Jul 2026 | 13:21 WIB

PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES), perusahaan yang bergeral di bidang industri manufaktur bata ringan. (Ist.)

JAKARTA, investor.id - Ekonom Senior sekaligus Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri menyoroti penurunan kemampuan investasi dalam menciptakan lapangan kerja.

Pemerintah dinilai perlu mendorong lebih banyak investasi yang berorientasi pada industri padat karya agar penciptaan lapangan kerja dapat kembali meningkat.

Yose Rizal menilai struktur investasi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakin bergeser ke arah sektor-sektor padat modal. Pergeseran tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari perkembangan teknologi hingga dominasi investasi pada sektor yang memang memiliki karakteristik padat modal.

"Ini dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, tetapi juga karena investasi banyak masuk ke sektor-sektor seperti pertambangan maupun industri pengolahan berbasis pertambangan yang memang relatif sedikit menyerap tenaga kerja," ungkap Yose Rizal Damuri dalam keterangannya di Jakarta, dikutip pada Rabu (15/7/2026).

Ia melanjutkan, perubahan struktur investasi tercermin dari menurunnya kemampuan investasi dalam menciptakan lapangan kerja. Jika sekitar satu dekade lalu setiap investasi senilai Rp 1 triliun mampu menciptakan lebih dari 3.500 lapangan pekerjaan, kini nilai investasi yang sama hanya mampu menyerap sekitar 1.200 hingga 1.400 tenaga kerja.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan setiap tambahan investasi saat ini menghasilkan peluang kerja yang jauh lebih sedikit dibandingkan beberapa tahun lalu.

Di sisi lain, laju investasi juga dinilai mulai mengalami perlambatan. Meski nilai investasi secara nominal masih bertumbuh, peningkatannya tidak lagi secepat sebelumnya. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika kemampuan investasi dalam menyerap tenaga kerja juga terus menurun.

Sorotan juga tertuju pada realisasi foreign direct investment (FDI) yang dalam denominasi dolar AS mengalami penurunan.

Tak Lepas dari Tantangan

Editor: Natasha Khairunisa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

26 Proyek Hilirisasi Danantara Tembus Rp 225 T

Microsoft Pangkas 4.800 Karyawan di Tengah Tekanan Investasi AI

Ekonom Beberkan Penyebab PHK Masih Marak

Transisi Energi Hijau Tanpa Mengabaikan Pekerja

Kawasan Industri RI Sedot Investasi Rp 6.744 Triliun

National 2 menit yang lalu Pemerintah Didorong Optimalkan Investasi Padat Karya Ekonom menilai, Pemerintah perlu mendorong lebih banyak investasi sektor padat karya agar penciptaan lapangan kerja kembali meningkat.

Market 6 menit yang lalu Sudah Punya Emas Antam (ANTM)? Pakar Sarankan Ini Harga emas Antam masih bergerak fluktuatif. Pakar menjelaskan strategi investasi dan prospek logam mulia hingga akhir 2026.

Market 12 menit yang lalu Pemerintah Pertimbangkan Beri Insentif Fiskal untuk ETF Emas Pemerintah berencana memberikan insentif fiskal untuk Exchange-Traded Fund (ETF) berbasis emas.

International 16 menit yang lalu Kilang Asia Borong Minyak Mentah AS Akibat Hambatan Selat Hormuz Perang Iran-AS memanas, kilang minyak Asia ramai-ramai borong minyak mentah AS akibat jalur Selat Hormuz yang nyaris lumpuh total.

Market 19 menit yang lalu IHSG Naik Lagi, Ada 2 Sentimen Kuat IHSG hari ini naik lagi didorong dua sentimen kuat, apa sajakah itu?

Market 23 menit yang lalu Harga Emas Antam (ANTM) Sudah Naik 5,9% YTD, Masih Layak Dibeli? Harga emas Antam naik 5,9% YTD. Pakar menilai saat ini masih menjadi momentum menarik untuk mulai membeli emas

Tag Terpopuler

Terpopuler

Penulis : Bambang Ismoyo 15 Jul 2026 | 13:21 WIB

Dengan demikian, terdapat dua tantangan yang dihadapi Indonesia secara bersamaan, yakni perubahan komposisi investasi yang semakin padat modal dan perlambatan pertumbuhan investasi, khususnya investasi asing langsung.

Yose Rizal menilai, pemerintah perlu memperkuat berbagai kebijakan yang mampu menarik investasi ke sektor-sektor yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi. Adapun industri padat karya seperti industri manufaktur padat karya, tekstil, alas kaki, makanan dan minuman, hingga sektor-sektor pengolahan lainnya.

Langkah tersebut dinilai penting agar pertumbuhan investasi tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat.

"Dari satu sisi memang ada perubahan (angka serapan tenaga kerja) di dalam struktur investasi kita," pungkasnya.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed