Clarissa Saputra Diterima di 14 Kampus Luar Negeri dan Raih Beasiswa Garuda
Clarissa Aurelia Nahid Saputra berhasil diterima di 14 perguruan tinggi luar negeri dan mendapatkan Beasiswa Garuda dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, dilansir dari Detikcom.
Beberapa universitas yang menerima Clarissa antara lain National University of Singapore (NUS), Nanyang Technological University (NTU), University of Illinois Urbana-Champaign (UIUC), University of California San Diego (UCSD), University of California Davis, University of Edinburgh, dan King's College London.
Saat ini, Clarissa sedang menempuh pendidikan di UC San Diego, Amerika Serikat, sekaligus mengembangkan bisnis startup di Silicon Valley bersama rekannya.
"Dari hackathon itu kita dapat pendanaan 50.000 dolar dari salah satu startup accelerator di San Francisco. Dari situ kami membuat proyek dan di musim panas ini kami buat lebih banyak proyek dan akhirnya didukung oleh Y Combinator," ujar Clarissa.
Orang tua Clarissa, Tri Febriantono Saputra dan Ratna Komala Dewi, membagikan cara mereka membimbing anaknya memiliki visi kuat dan kemandirian.
Febri menjelaskan mereka tidak memaksakan minat Clarissa sejak kecil. "Dulu waktu SD, dia anak biasa yang suka main game dan sempat jadi YouTuber," ujarnya.
Namun Clarissa menemukan passion pada fisika dan robotika secara mandiri, meskipun orang tuanya tetap memberi arahan saat masa transisi sekolah yang lebih kompetitif.
Clarissa mulai menunjukkan perubahan saat pandemi COVID-19 dengan memasang poster tokoh inspiratif di kamarnya dan mempersiapkan diri masuk SMA favorit.
"Dia sangat mempersiapkan diri untuk masuk SMA MH Thamrin dan akhirnya menjadi lulusan terbaik di angkatannya," kata Febri.
Febri juga mengenalkan kemandirian kepada Clarissa sejak kecil dengan kebiasaan membawa koper sendiri saat bepergian ke luar negeri.
"Sejak usia 7 tahun dan 4 tahun berikutnya, anak-anak dibiasakan mandiri saat keluar negeri. Mereka harus membawa koper sendiri, naik angkutan umum sendiri," ujarnya.
Ratna menambahkan fokus membangun fondasi hard skill sejak kecil dengan les bahasa Inggris dan matematika, serta memperkenalkan Clarissa pada lingkungan akademik sejak dini.
"Clarissa sudah mendengarkan kuliah sejak dalam kandungan saya," tutur Ratna.
Perjalanan Clarissa tidak selalu mulus. Ia pernah ditolak kampus impian MIT dan gagal meraih medali emas Olimpiade Sains Nasional (OSN), namun orang tuanya memberi dukungan moral.
"Kami bilang, buktikan ke teman-teman kamu yang diterima di kampus terkemuka di AS bahwa kamu bisa melebihi mereka dengan prestasi," ujar Tri Febriantono Saputra.
Clarissa kini sukses membangun dua startup, Clean AI dan StudiLanjut, serta diakui secara internasional.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow