BRIN memaparkan inovasi untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis

Smallest Font
Largest Font

Kepala BRIN Arif Satria memaparkan inovasi untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis, termasuk teknologi produksi bahan baku, pengolahan pangan, pengemasan, quality control, serta monitoring berbasis AI. Paparan itu disampaikan dalam konferensi pers Indonesia Innovator Award.

Menurut laporan Detik iNET, pada Senin 10 Agustus 2026 Arif menjabarkan rangkaian inovasi BRIN untuk seluruh rantai MBG.

BRIN menyebut inovasi kategori produksi bahan baku dimulai dari mie prebiotik tinggi protein, dengan kandungan protein lebih dari 35% kebutuhan protein orang dewasa. BRIN juga menyiapkan teknologi food saver untuk menjaga kesegaran bahanan MBG.

Untuk kategori pengolahan pangan, BRIN memperkenalkan mesin pemasak sistem terbuka yang mampu mematangkan bahan, menghilangkan bau langu, hingga mensterilkan cairan. Inovasi berikutnya adalah mesin retort skala UMKM untuk pengawasan pangan berbasis IoT dan produksi RTE berkualitas.

Di kategori pengemasan, BRIN menyampaikan penggunaan kemasan aktif untuk menjaga mutu, keamanan, dan umur simpan pangan. BRIN juga menghadirkan smart bioplastic berbasis biomassa sebagai pendeteksi kadaluarsa makanan.

Untuk quality control dan food safety, Arif menyebut dua inovasi: fresh scan dan test-kit MBG. Fresh scan disebut dapat mendeteksi kesegaran makanan berbasis gas H2S dan NH3 terintegrasi IoT, sedangkan test-kit MBG mendeteksi pembusukan dengan multisensor gas lima jenis gas.

Arif menambahkan adanya test-kit untuk mendeteksi kehalalan MBG. Langkah ini melengkapi mekanisme pengawasan dari hulu hingga hilir rantai makanan.

Selain itu, BRIN menghadirkan monitoring dan evaluasi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk MBG. Sistem pengawasan otomatis itu memantau keamanan pangan, kualitas gizi, higienitas dapur, dan rantai pasok secara real-time untuk mencegah risiko seperti keracunan makanan.

BRIN juga menegaskan arah riset dan inovasi melalui perubahan pola pikir peneliti dari riset demi riset menjadi riset yang berdampak langsung bagi masyarakat. Arif menyampaikan hal tersebut dalam peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-31 dengan tema Teknologi Berdampak untuk Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur.

"Kita harus mendorong hilirisasi riset dan inovasi. Riset tidak boleh berhenti pada publikasi atau prototipe, tetapi harus menjadi produk yang bermanfaat. Kebijakan yang tepat sasaran, serta solusi nyata bagi permasalahan bangsa," ujar Arif Satria, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Dalam kesempatan yang sama, Arif mengaitkan pesan Presiden Prabowo Subianto mengenai peran penguasaan teknologi bagi posisi dan martabat negara di mata internasional, sebagaimana dilansir dari Detik iNET.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed