Bencana Banjir Bandang dan Patahan Gletser Terjang Perbatasan Nepal China

Smallest Font
Largest Font

Runtuhnya patahan gletser raksasa dari Gunung Langtang Lirung memicu banjir bandang serta tanah longsor dahsyat di kawasan perbatasan Nepal dan China pada Rabu. Bencana alam ini mengakibatkan ratusan orang tewas serta puluhan lainnya dilaporkan hilang, seperti dilansir dari Detik iNET.

Material longsoran berupa campuran es, air, sedimen, dan bebatuan besar terjun bebas setinggi 2.100 meter ke lembah. Aliran deras tersebut menghancurkan pemukiman warga, fasilitas pembangkit listrik, jembatan, hingga jalan raya di sepanjang ngarai.

Data satelit mengonfirmasi bahwa gletser selebar 600 meter patah sebelum meluncur menimpa pemukiman di hilir. Peristiwa skala besar ini memicu kekhawatiran para ahli terkait dampak pemanasan global di wilayah pegunungan tinggi Himalaya.

Analis iklim dari lembaga ICIMOD memberikan pandangannya mengenai skala bencana yang melanda wilayah pegunungan tersebut.

"Namun yang terjadi Rabu lalu skalanya jauh lebih besar," ungkap Prashant Baral, analis di ICIMOD.

Proses pemanasan suhu global yang terus berlanjut telah mempercepat laju pencairan gletser dan melunakkan lapisan permafrost di kawasan tinggi. Kondisi ini membuat struktur lereng pegunungan rawan runtuh secara mendadak.

Pakar geologi menilai bahwa ancaman bencana hidrometeorologi ekstrem makin nyata akibat peningkatan suhu bumi.

"Terlepas apakah peristiwa spesifik ini terkait langsung perubahan iklim atau tidak, hal seperti inilah yang sudah kami perkirakan. Ini wujud nyata perubahan iklim," ujar Dan Shugar, ahli geologi di University of Calgary, Kanada.

Mencairnya es mengancam ketahanan struktur batuan pegunungan yang sebelumnya terikat erat oleh permafrost. Dampak kerusakan tidak hanya terbatas pada area gletser, tetapi juga berpotensi memicu luapan danau gletser hingga ke pemukiman warga.

Ahli geografi fisik menjelaskan mekanisme es dalam menopang kestabilan lereng pegunungan.

"Anggaplah gunung-gunung tinggi sebagai batuan dasar yang retak-retak, namun direkatkan celah-celah terisi es," jelas Richard Waller, ahli geografi fisik di Keele University di Inggris.

Ancaman dari gletser gantung di kawasan Himalaya menjadi risiko konstan bagi masyarakat yang bermukim di hilir sungai.

"Ada banyak gletser menggantung di atas kepala kita dan bisa pecah kapan saja. Jika terjadi, rasanya seperti ada tsunami dari langit," ujar Bishal Upreti, ahli geologi Nepal Centre for Disaster Management.

Fenomena tidak stabilnya permafrost dan danau gletser ini juga memicu bencana serupa di berbagai negara lain, seperti jebolnya danau Suicide Basin di Alaska hingga runtuhnya gletser di Blatten, Swiss.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed