China Cegah Potensi Banjir Bandang Susulan di Perbatasan Nepal
Ancaman banjir di kawasan perbatasan Tibet dan Nepal masih mengintai pascabencana banjir bandang akibat runtuhnya gletser. Dilansir dari Detik iNET, para ilmuwan dan tim penyelamat kini memfokuskan perhatian pada danau bendungan alami yang terbentuk dari tumpukan material es, batu, serta longsoran.
Pemerintah China mengerahkan tim teknik beranggotakan delapan orang untuk melakukan survei udara dan pemodelan tiga dimensi. Langkah cepat ini diambil guna mengurangi potensi jebolnya bendungan alami yang dapat memicu banjir susulan di hilir.
Material batu dan es dalam jumlah besar sebelumnya membendung aliran sungai hingga menciptakan danau alami tersebut. Berbeda dari bendungan buatan yang memiliki penampung dan pintu air terkontrol, bendungan alami sangat rentan terkikis atau runtuh saat tekanan air terus meningkat.
Hasil survei menunjukkan danau alami ini memiliki panjang 150 meter dengan kedalaman mencapai 40 hingga 50 meter. Volume air di dalamnya melonjak hingga menembus 2,5 juta meter kubik, atau setara dengan kapasitas 1.000 kolam renang ukuran Olimpiade.
Kekhawatiran utama muncul karena debit air terus bertambah sementara saluran keluar alami belum berfungsi optimal. China memprediksi pasokan air dapat bertambah hingga 3 juta meter kubik dalam tiga hari ke depan, dengan puncak aliran diperkirakan terjadi pada 1 September 2026 yang diperparah oleh potensi hujan selama sepekan.
"Volume air terus meningkat, begitu pula risikonya," kata Zhu Jinfeng, peneliti dari Kementerian Sumber Daya Air China.
Guna menghindari ancaman banjir mendadak, longsor, serta runtuhan susulan, seluruh operasi penyelamatan di sekitar lokasi dihentikan sementara. Semua personel dan armada kendaraan dievakuasi ke area aman.
Tim ahli mengkaji pembuatan saluran drainase pada bagian bendungan yang lebih rendah untuk mengurangi tekanan air. Kendati demikian, pengerjaan teknis ini memerlukan ketelitian tinggi agar tidak justru merusak struktur bendungan yang labil.
Chen Hanxiao, salah satu anggota tim teknik China, menjelaskan bahwa lebar dan kedalaman saluran harus dihitung berdasarkan seberapa cepat air mengalir dan seberapa cepat danau terus terisi.
"Setelah runtuhnya gletser membentuk danau, banyak tebing terisolasi dan tebing curam muncul di sepanjang garis pantainya," ujarnya.
Jika struktur alami tersebut gagal menahan beban, air akan terkuras cepat sambil membawa lumpur dan batuan ke area bawah. Fenomena ini dikenal sebagai glacial lake outburst flood (GLOF) atau banjir luapan danau gletser.
Pakar longsor Himalaya dari University of Canterbury, Tom Robinson, menjelaskan bahwa danau semacam ini pada dasarnya menyerupai bendungan hidroelektrik, tetapi tanpa sistem untuk mengatur pelepasan air secara terkontrol.
"Dalam skenario terburuk, bendungan akan terkikis membentuk saluran. Hal itu dapat menyebabkan seluruh material runtuh dan danau terkuras dengan sangat cepat," kata Robinson.
Kondisi di lapangan kian kompleks lantaran China dan Nepal menemukan lebih dari satu danau alami baru yang terbentuk akibat longsor di kawasan Himalaya. Pemerintah China memanfaatkan teknologi penginderaan jauh guna memantau munculnya danau-danau alami lain yang berpotensi memicu banjir susulan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow