AS memperingatkan China risiko sanksi sekunder terkait Iran
Pemerintah Amerika Serikat memperingatkan China dan negara lain soal risiko sanksi sekunder jika tetap menjalin hubungan bisnis dengan Iran, sambil meluncurkan kampanye ekonomi untuk memutus pasokan dana bagi Teheran, menurut Investor Daily.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut operasi bertajuk Operation Economic Outcast membidik lima sektor vital ekonomi Iran: aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran.
“Pihak yang berdiri bersama Amerika Serikat akan merasakan manfaat kemitraan kami. Namun, mereka yang terikat dengan rezim Iran harus bersiap ikut menanggung isolasi yang dialami rezim terpuruk tersebut,” tegas Scott Bessent dalam konferensi pers di Washington, sebagaimana dikutip Kyodo.
Bessent menekankan tak ada entitas atau negara yang kebal, termasuk China yang selama ini menjadi mitra dagang utama Iran, dan AS memberi batas waktu untuk menghentikan aktivitas ekonomi yang telah diidentifikasi.
“Pihak yang berdiri bersama Amerika Serikat akan merasakan manfaat kemitraan kami. Namun, mereka yang terikat dengan rezim Iran harus bersiap ikut menanggung isolasi yang dialami rezim terpuruk tersebut,” tegas Scott Bessent dalam konferensi pers di Washington, sebagaimana dikutip Kyodo.
Bersamaan dengan ancaman sanksi sekunder, AS menetapkan sanksi terhadap sekitar 60 entitas, individu, dan kapal di berbagai negara yang dinilai memfasilitasi Iran memperoleh teknologi nuklir dan rudal ilegal, menjalankan operasi siber, serta mengalirkan pendapatan dari perdagangan minyak.
Tekanan ekonomi baru ini muncul saat Presiden AS Donald Trump berupaya mencapai kesepakatan diplomasi untuk mengakhiri konflik enam bulan dengan Iran dan ketika menjelang rencana kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Gedung Putih pada bulan depan, menurut Investor Daily.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow