Yield SUN Diprediksi Stabil dengan Bias Turun Tipis
Imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 5-10 tahun diproyeksikan bergerak stabil dengan kecenderungan turun tipis pada lelang mendatang, sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Minggu (9/8/2026). Proyeksi ini didukung oleh tingginya permintaan investor domestik serta kecukupan likuiditas perbankan nasional.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendi Manilet mengungkapkan bahwa pergerakan yield SUN saat ini telah menyesuaikan diri terhadap dinamika pasar keuangan global. Penyesuaian tersebut mencakup respons atas kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
"Yield SUN tenor 5 hingga 10 tahun saat ini berada di kisaran 7,22% - 7,30% dan menurut saya level tersebut sudah cukup mencerminkan penyesuaian terhadap kenaikan yield global, terutama US Treasury yang masih berada di atas 4,6%," kata Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendi Manilet.
Kekuatan kondisi ekonomi dalam negeri serta dukungan likuiditas sektor perbankan dan lembaga institusi menjadi penopang utama. Selain itu, kebijakan strategis Bank Indonesia turut menjaga agar imbal hasil tidak melonjak secara tajam.
"Jika melihat kondisi domestik yang relatif kuat, saya melihat yield pada lelang mendatang cenderung bergerak stabil dengan peluang turun tipis, bukan mengalami kenaikan tajam," jelas Yusuf Rendi Manilet.
Tingginya minat terhadap instrumen ini dibuktikan melalui lelang SUN pada 4 Agustus 2026 yang membukukan nilai penawaran melebihi Rp70 triliun, di mana pemerintah menyerap nominal sebesar Rp32 triliun. Angka penawaran tersebut mengonfirmasi bahwa minat investor terhadap surat utang pemerintah tetap terjaga kokoh.
Ruang untuk memperoleh penawaran yang solid masih terbuka luas bagi pemerintah tanpa perlu memberikan insentif yield berlebih, mengingat tingkat imbal hasil SUN masih kompetitif dibandingkan BI Rate di level 5,75%. Kendati demikian, gejolak nilai tukar Rupiah yang berada di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS tetap memicu kewaspadaan.
"Namun, volatilitas rupiah di kisaran Rp 17.800 sampai Rp 17.900 per dolar AS tetap menjadi risiko yang perlu diperhatikan karena dapat membuat investor meminta tambahan yield," tutur Yusuf Rendi Manilet.
Peran Bank Indonesia dalam memelihara kecukupan likuiditas serta menstabilkan nilai tukar menjadi kunci utama pembatas dampak sentimen global. Meskipun arah kebijakan The Fed yang hawkish tetap perlu diantisipasi, daya serap investor domestik diperkirakan lebih dominan dalam meredam tekanan tersebut.
"Selama BI mampu menjaga stabilitas rupiah dan memastikan likuiditas domestik tetap memadai, pengaruh sentimen global terhadap SUN seharusnya relatif terbatas," ujar Yusuf Rendi Manilet.
Peluang masuknya kembali arus modal asing (inflow) ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih terbuka seiring dengan potensi stabilisasi rupiah. Porsi kepemilikan investor asing yang saat ini berada pada kisaran 12% hingga 13% memberikan ruang ekspansi yang memadai untuk instrumen domestik.
Apabila aliran dana asing masuk secara signifikan, imbal hasil SUN diperkirakan berpotensi membaik. Namun, ruang penurunan yield dalam jangka pendek diperkirakan tidak akan terlalu agresif.
"Base case saya, yield mungkin turun sekitar 10 sampai 20 basis poin jika inflow cukup kuat, tetapi skenario yang lebih realistis adalah stabil dengan bias turun tipis," kata Yusuf Rendi Manilet.
Persaingan serapan dana asing juga dipengaruhi oleh ketersediaan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang menawarkan imbal hasil menarik dengan risiko durasi lebih rendah. Keseimbangan antara penawaran domestik, pergerakan US Treasury, serta stabilitas rupiah akan menjadi penentu utama hasil lelang SUN selanjutnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow