Ekonomi Indonesia Diproyeksi Tumbuh Melambat 5,18 Persen pada Triwulan II-2026

Smallest Font
Largest Font

Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan melambat ke level 5,18 persen pada triwulan II-2026. Angka tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan capaian triwulan I-2026 yang menembus 5,61 persen, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Proyeksi ini berada di bawah target tahunan pemerintah yang menetapkan sasaran sebesar 5,4 persen sepanjang 2026. Pergerakan indikator makro ini dipengaruhi oleh penyesuaian belanja negara serta pola konsumsi publik pasca-hari raya keagamaan.

Chief Economist Bank Danamon Irman Faiz mengaitkan penurunan laju ini dengan perubahan ritme pengeluaran instansi pemerintah dan normalisasi kegiatan masyarakat. Di samping itu, dinamika perdagangan internasional kurang memberi dorongan positif.

“Perlambatan ini lebih mencerminkan normalisasi pola belanja pemerintah yang lebih lambat dan meredanya aktivitas pasca hari besar keagamaan. Di sisi lain, sektor eksternal juga kurang mendukung,” ucap Chief Economist Bank Danamon Irman Faiz pada Selasa (4/6/2026).

Badan Pusat Statistik dijadwalkan merilis laporan resmi PDB triwulan II-2026 pada Rabu (5/8/2026). Rangkaian data penting lain seperti tingkat kemiskinan Maret 2026, ketimpangan pengeluaran, ketenagakerjaan Mei 2026, dan Indeks Kondisi serta Prospek Bisnis Industri Manufaktur juga akan diumumkan.

Daya beli rumah tangga dilaporkan tetap mengalami ekspansi, meski belum memberikan akselerasi signifikan. Pengucuran insitial stimulus belum memicu lonjakan konsumsi secara masif lantaran kecenderungan masyarakat yang lebih berhati-hati.

Sikap transpired publik tecermin dari laju penyaluran kredit konsumsi yang masih tertinggal ketimbang kredit investasi. Penetrasi permintaan dalam negeri dinilai bergerak secara bertahap dan belum merata di seluruh lapisan.

“Artinya, pemulihan permintaan domestik masih berlangsung secara bertahap dan belum sepenuhnya merata,” tutur dia.

Aktivitas penanaman modal bertahan sebagai penopang utama perekonomian nasional. Arus modal asing terus mengalir ke industri hilirisasi, sektor manufaktur, pusat data, hingga proyek-proyek infrastruktur vital.

Kebutuhan terhadap barang modal memicu lonjakan volume impor di sektor tersebut. Walau berdampak pada neraca perdagangan jangka pendek, fenomena ini mengindikasikan perluasan kapasitas produksi untuk menopang pertumbuhan jangka menengah.

“Meskipun dalam jangka pendek hal ini memperlebar impor dan menekan neraca perdagangan, dalam jangka menengah kondisi tersebut justru mencerminkan ekspansi kapasitas produksi yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi ke depan,” terang Irman.

Sektor Eksternal Menjadi Penahan Laju Growth

Sektor perdagangan luar negeri mencatatkan kinerja yang menahan laju ekspansi triwulanan. Kendati nilai ekspor relatif stabil, laju impor barang modal, bahan baku, dan energi tumbuh jauh lebih pesat.

Defisit perdagangan selama Mei dan Juni memperbesar potensi kontribusi negatif dari PDB sektor eksternal pada periode tiga bulan kedua tahun ini.

“Kondisi tersebut tercermin dari defisit neraca perdagangan selama dua bulan berturut-turut pada Mei dan Juni, yang menunjukkan bahwa kontribusi sektor eksternal terhadap produk domestik bruto kemungkinan menjadi negatif pada kuartal II,” tutur Irman.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed