Target Lifting Minyak 2027 Dinilai Jadi Tantangan Besar
Penulis : Mita Amalia Hapsari 18 Aug 2026 | 19:15 WIB
Foto ilustrasi, Petugas melakukan pengecekan ke tangki BBM di Integrated Terminal Jakarta, Plumpang, Jakarta Utara, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
JAKARTA, investor.id – Target lifting minyak nasional sebesar 610.000 barel per hari (bph) pada 2027 dinilai menjadi tantangan besar di tengah penurunan alamiah produksi lapangan minyak Indonesia. Meski demikian, sejumlah akademisi menilai strategi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sudah berada di jalur yang tepat dan tinggal dijaga konsistensinya.
Pakar kebijakan publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran, Bonti Wiradinata, mengatakan bahwa target tersebut tidak hanya berkaitan dengan angka produksi, tetapi juga memiliki fungsi strategis untuk menjaga ketahanan energi Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar energi global.
“Target 610.000 barel per hari pada RAPBN 2027 memiliki fungsi sebagai pertahanan dasar (defensive baseline) untuk menjaga daya tawar (bargaining power) Indonesia di tengah volatilitas pasar global,” kata Bonti, Selasa (18/8/2026).
Menurut Bonti, kebijakan Kementerian ESDM melalui percepatan eksplorasi greenfield, optimalisasi lapangan eksisting dengan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR), serta perbaikan iklim investasi merupakan kombinasi yang tepat untuk menghadapi penurunan produksi minyak nasional.
“Dari sudut pandang kebijakan publik, kombinasi tiga strategi tersebut dinilai tepat sasaran karena mengadopsi pendekatan tritunggal intervensi kebijakan, intervensi jangka pendek, jangka panjang, dan penyediaan fasilitas fiskal, untuk menyelesaikan akar masalah penurunan produksi hulu migas,” ujar Bonti.
Bonti menjelaskan, optimalisasi lapangan eksisting penting karena mayoritas lapangan minyak Indonesia telah berusia tua dan mengalami penurunan produksi secara alamiah. EOR dapat menjadi solusi jangka pendek dan menengah, sementara eksplorasi wilayah baru diperlukan untuk menjaga keberlanjutan cadangan serta produksi dalam jangka panjang.
Ia juga menilai perbaikan iklim investasi menjadi faktor penting lainnya karena eksplorasi hulu migas membutuhkan modal besar dan memiliki risiko tinggi. Insentif fiskal, fleksibilitas skema kontrak, hingga pemangkasan perizinan dinilai dapat meningkatkan daya tarik investasi sektor hulu migas Indonesia.
Sementara itu, pakar ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai target lifting 610.000 bph tetap menghadapi tantangan serius karena cadangan minyak nasional terbatas dan banyak lapangan telah memasuki usia matang. Meski demikian, berbagai upaya seperti penggunaan teknologi, optimalisasi sumur tua, dan pengembangan sumur rakyat dinilai telah membantu menjaga produksi.
“Selama setahun memang berbagai upaya dilakukan secara mati-matian. Misalnya penggunaan teknologi dalam eksplorasi, kemudian memanfaatkan sumur-sumur tua, dan juga mendorong sumur rakyat,” kata Fahmy.
Fahmy mengingatkan agar strategi tersebut dilakukan secara konsisten. Menurutnya, keberlanjutan menjadi kunci untuk mempertahankan capaian produksi di tengah tren penurunan alamiah lapangan minyak.
Fahmy juga melihat potensi peningkatan produksi migas masih terbuka melalui pengembangan Blok Masela di Maluku. Ia mendorong keterlibatan Pertamina untuk mempercepat proyek tersebut karena dapat menjadi sumber produksi sekaligus penerimaan negara.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya mengenai RAPBN 2027 dan Nota Keuangan menargetkan lifting minyak 610.000 bph sebagai bagian dari upaya mendukung target pertumbuhan ekonomi 6%.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Prabowo: Ekonomi RI Tetap Kokoh, Defisit APBN 0,91% per Juli 2026
Mengoptimalkan Penerimaan Pajak hingga Akhir Tahun
Purbaya: Penerimaan Pajak Tumbuh 23% hingga Juli 2026
Pasokan Pulih, ICP Juli 2026 Turun Jadi US$ 81,68
Jelang Pidato APBN 2027 Prabowo, Cek Target vs Realisasi Makro Terkini
Business 12 menit yang lalu Target Lifting Minyak 610.000 BPH pada 2027, Apa Tantangannya? Target lifting minyak 610.000 bph pada 2027 dinilai tepat, tetapi konsistensi eksplorasi, EOR, dan investasi menjadi kunci.
Macroeconomy 26 menit yang lalu RUU Ketenagakerjaan Mesti Akomodasi Kepentingan Buruh, Pengusaha, dan Pencari Kerja Ekonom meminta RUU Ketenagakerjaan mengakomodasi kepentingan pekerja, pengusaha, dan pencari kerja demi iklim investasi dan lapangan kerja.
Market 27 menit yang lalu Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham Rabu, 19 Agustus 2026 Prediksi IHSG Rabu 19 Agustus 2026 akan bergerak sideways. Simak rekomendasi saham BRMS, PGEO, TAPG, dan UNTR.
Market 29 menit yang lalu Saham Nikel Diskon Diramal Loncat 50%, Pendapatan US$2,6 Miliar Harum Energy (HRUM) ditaksir menuai lonjakan pendapatan dan laba bersih fantastis tahun 2026 dan 2027. Target harga saham HRUM segini.
International 52 menit yang lalu Nelayan 15 Hari Terjebak di Gua Bawah Air Ini Berhasil Diselamatkan Nelayan Meksiko selamat usai 15 hari terjebak di gua bawah air. Simak kisah keajaiban dan aksi penyelamatannya!
Macroeconomy 1 jam yang lalu Ekonom: Manufaktur Butuh Dukungan Fiskal untuk Bangkit Kontribusi manufaktur anjlok menjadi 18% terhadap PDB. Ekonom mendorong kebijakan fiskal dan ekosistem hulu-hilir untuk memperkuat industri.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow