Simulasi Pluang Ungkap Modal Kebutuhan Merdeka Finansial

Smallest Font
Largest Font

Pencapaian merdeka finansial membutuhkan modal portofolio yang bervariasi bagi setiap individu. Kebutuhan ini sangat bergantung pada tingkat pengeluaran bulanan dan besaran imbal hasil aset produktif yang dimiliki. Perhitungan simulasi dari Pluang menunjukkan bahwa pengeluaran Rp 5 juta per bulan memerlukan portofolio sekitar Rp 1,2 miliar.

Angka ini dihitung menggunakan asumsi imbal hasil dividen 5 persen per tahun, seperti dilansir dari Investor Daily. Sementara itu, kebutuhan portofolio akan membengkak menjadi Rp 2,4 miliar untuk tingkat pengeluaran Rp 10 juta per bulan. Perhitungan tersebut tetap mengacu pada tingkat imbal hasil yang sama.

Nilai investasi besar bukan menjadi satu-satunya indikator kebebasan finansial. Pluang menegaskan ada tiga fondasi utama yang wajib dipenuhi, yakni kepemilikan aset produktif, bebas utang konsumtif, dan ketersediaan dana darurat.

Aset produktif berfungsi sebagai pencetak arus kas rutin, bukan sekadar mencatatkan pergerakan nilai di atas kertas. Kehadirannya menjadi penopang utama untuk membiayai kebutuhan hidup tanpa mengandalkan gaji aktif. Beban utang konsumtif berbunga tinggi harus diselesaikan karena berisiko menggerus imbal hasil investasi. Di sisi lain, dana darurat berperan sebagai bantalan likuiditas agar investor tidak terpaksa menjual aset jangka panjang saat pasar tertekan.

Acuan Pengeluaran dan Pilihan Instrumen Investasi

Acuan perhitungan kebutuhan modal ini mengacu pada standar pengeluaran Badan Pusat Statistik (BPS). BPS menetapkan kelompok kelas menengah memiliki rentang pengeluaran 3,5 hingga 17 kali garis kemiskinan. Berdasarkan rilis BPS per 5 Agustus 2026, garis kemiskinan per Maret 2026 tercatat sebesar Rp 669.235 per orang per bulan. Artinya, kisaran pengeluaran kelas menengah berada di rentang Rp 2,34 juta hingga Rp 11,38 juta per individu setiap bulan.

Masyarakat dapat menentukan target portofolio secara mandiri. Rumus sederhananya adalah mengalikan pengeluaran bulanan dengan 12, lalu membaginya dengan asumsi imbal hasil yang diharapkan. Untuk mengejar imbal hasil 5 persen, investor dapat melirik indeks IDX High Dividend 20 di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Indeks ini mencakup 20 perusahaan yang rutin membagikan dividen tunai dengan rata-rata dividend yield historis 5 hingga 7 persen per tahun. Opsi lainnya adalah Surat Berharga Negara (SBN) yang pada 2026 menawarkan penerbitan di kisaran 5,45 hingga 7 persen. Penerbitan ORI030 pada Juli 2026 bahkan mencatat kupon tertinggi dalam delapan tahun, dengan imbal hasil bersih sekitar 4,91 hingga 6,3 persen setelah pajak final 10 persen.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed