Sektor Pertambangan Terkontraksi 164 Persen pada Triwulan II 2026
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan sektor pertambangan mengalami kontraksi sebesar 1,64 persen secara tahunan pada triwulan II-2026. Penurunan kinerja ini dipengaruhi oleh gangguan operasional tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia dan kebijakan revisi kuota produksi batu bara, sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Rabu (5/8/2026).
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, menegaskan posisi sektor ini di antara sektor bisnis lain yang tetap tumbuh positif sepanjang periode tersebut.
"Seluruh lapangan usaha tumbuh positif kecuali lapangan usaha pertambangan," ujar Edy dalam konferensi pers, Rabu (5/8/2026).
Penurunan terdalam terjadi pada subsektor pertambangan bijih logam yang terkontraksi 9,42 persen yoy akibat kemerosotan produksi komoditas bauksit, timah, dan nikel.
"Selain itu, belum pulihnya operasi tambang bawah tanah di Grasberg Block Cave di Provinsi Papua Tengah pascainsiden longsor atau aliran lumpur pada September tahun 2025," ungkap Edy.
Sementara itu, subsektor pertambangan batu bara dan lignit tergerus 1,41 persen yoy akibat penataan kuota produksi pemerintah.
"Pertambangan batu bara dan lignit juga terkontraksi sebesar 1,41% disebabkan oleh penataan kuota produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB tahun 2026, sebagai upaya menjaga keseimbangan pasokan dan mendorong perbaikan price batu bara di pasar internasional," urai Edy.
Subsektor pertambangan minyak, gas, dan panas bumi turut menyumbang penurunan dengan kontraksi sebesar 2,15 persen yoy yang disebabkan oleh penurunan alamiah produktivitas sumur serta minimnya penemuan cadangan baru.
Meski tertekan, sektor pertambangan menyumbang 8,87 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada triwulan II-2026 serta menambah sekitar 20.000 tenaga kerja periode Februari hingga Mei 2026.
"Lapangan usaha utama yang memberikan kontribusi besar terhadap PDB yaitu industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Total kelima lapangan usaha tersebut mencakup sekitar 63,73% dari total PDB Indonesia," kata Edy.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 tercatat sebesar 5,29 persen yoy, melambat dari capaian triwulan I-2026 yang sebesar 5,61 persen yoy, namun mampu menyerap 522.000 tenaga kerja baru.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow