Saham ERAA Melesat 7,98 Persen Usai Diborong Investor Asing
Aksi beli bersih investor asing mendorong harga saham PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) melonjak 7,98 persen hingga menyentuh level Rp460 per lembar pada perdagangan Selasa (4/8/2026). Lonjakan ini ditopang oleh kinerja keuangan perseroan yang solid sepanjang semester I-2026.
Aktivitas perdagangan saham ERAA mencatatkan volume sebesar 234,66 juta saham dengan frekuensi transaksi mencapai 12.790 kali dan total nilai transaksi senilai Rp105,2 miliar. Investor asing membukukan pembelian bersih atau net buy sebesar Rp45,18 miliar pada hari tersebut.
Tren positif saham perusahaaan ritel ini terus bertahan di zona hijau sejak 30 Juli 2026. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, akumulasi kenaikan harga saham ERAA telah mencapai 25,68 persen seiring masuknya arus modal asing secara konsisten sejak 24 Juli 2026.
Berdasarkan data kepemilikan perseroan, penerima manfaat akhir dari entitas ERAA tercatat atas nama Rebecca Halim, istri dari pengusaha Sugianto Kusuma atau Aguan. Sementara itu, pemegang saham mayoritas masih dikuasai oleh PT Eralink International sebesar 55,17 persen atau setara 8,80 miliar saham.
Sejumlah dana kelolaan institusi global juga menguasai porsi saham perseroan, di antaranya HSBC Ltd-Singapore Branch Private Banking Division sebesar 3,45 persen, Albizia ASEAN Opportunities Fund 2,25 persen, Public Indonesia Select Fund 1,83 persen, Government of Norway 1,71 persen, serta Arisaig Asia Fund Limited 1,65 persen.
Kenaikan harga saham perseroan sejalan dengan penguatan kinerja operasional dan finansial pada semester I-2026. Erajaya membukukan penjualan neto sebesar Rp42,89 triliun hingga akhir Juni 2026, meningkat 22,40 persen dibandingkan perolehan periode yang sama tahun 2025 sebesar Rp35,05 triliun.
Dari total pendapatan tersebut, segmen telepon seluler dan tablet masih mendominasi dengan kontribusi sebesar Rp32,45 triliun. Penjualan aksesoris dan produk lainnya menyumbang Rp6,30 triliun, segmen komputer dan elektronik konsumen sebesar Rp2,40 triliun, serta lini active dan lifestyle mencatatkan Rp1,74 triliun.
Pertumbuhan volume usaha berimbas pada kenaikan beban penjualan dan distribusi menjadi Rp2,28 triliun dari sebelumnya Rp1,70 triliun. Beban umum dan administrasi juga terkatut naik dari Rp1,37 triliun menjadi Rp1,51 triliun akibat ekspansi penambahan jaringan gerai baru.
Meskipun beban operasional meningkat, efisiensi usaha membuat laba operasional melesat 28,26 persen menjadi Rp1,44 triliun. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melompat 37,96 persen menjadi Rp784,02 miliar, yang mengerek laba per saham dasar dari Rp36,00 menjadi Rp50,09.
Adapun total laba periode berjalan ERAA tercatat sebesar Rp872,12 miliar, naik 43,96 persen dari Rp605,82 miliar pada semester I-2025. Dari sisi neraca, total aset perseroan tumbuh menjadi Rp29,34 triliun dengan total ekuitas Rp10,94 triliun dan liabilitas Rp18,40 triliun.
Dari segi valuasi pasar, saham ERAA ditransaksikan dengan rasio price to book value (PBV) sebesar 0,77 kali. Sementara itu, rasio price earning ratio (PER) yang disetahunkan berada pada level 4,68 kali.
Manajemen perseroan menegaskan komitmennya untuk mempertahankan tren pertumbuhan bisnis melalui penguatan fundamental dan ekspansi jaringan ritel secara terukur.
"Kami terus menjaga keseimbangan antara upaya mendorong pertumbuhan dan penerapan prinsip kehati-hatian dalam menjalankan bisnis. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan tetap responsif terhadap perubahan kondisi pasar sekaligus menjaga fundamental bisnis yang sehat," kata Amelia Allen, Head of Legal Counsel & Corporate Affairs ERAA.
Perseroan juga terus melanjutkan ekspansi portofolio bisnis di luar jaringan toko ponsel pintar, termasuk merambah sektor Active Lifestyle melalui gerai JD Sports dan ASICS, lini makanan dan minuman lewat Bacha Coffee dan Paris Baguette, serta penetrasi awal ke industri kendaraan listrik.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow