Saham BUMI Stagnan di Rp171 Usai Diversifikasi Bisnis Pertambangan

Smallest Font
Largest Font

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dibuka stagnan di harga Rp171 per lembar pada sesi pertama perdagangan bursa, Senin, 27 Juli 2026. Pergerakan harga emiten pertambangan ini terjadi di tengah penurunan Indeks Harga Saham Gabungan serta langkah taktis perseroan memperluas portofolio bisnis.

Aktivitas transaksi emiten ini tetap mencatatkan volume tinggi di Bursa Efek Indonesia. Dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp63 triliun, pergerakan BUMI terus diminati pelaku pasar berkat likuiditas tinggi dan dorongan harga komoditas global seperti batu bara, emas, dan tembaga.

Secara teknikal, BUMI sempat mencetak harga tertinggi di level 196 sebelum ditutup terkoreksi pada perdagangan pekan lalu. Area 164 hingga 170 kini menjadi batas penopang terdekat untuk menahan potensi penurunan lebih lanjut.

Di sisi operasional, perseroan aktif bertransisi menjadi emiten pertambangan terdiversifikasi. BUMI telah menyelesaikan akuisisi 100 persen saham Wolfram dan Jubilee, serta memegang 45 persen saham Laman Mining dengan cadangan bauksit sebesar 30 juta ton. Selain itu, rencana pengambilalihan Loyal Metals di Australia senilai Rp977 miliar tengah disiapkan, disusul divestasi Citra Palu Mineral ke BRMS senilai Rp151,99 miliar pada Juni 2026.

Langkah ekspansi aset non-batu bara tersebut mendapat sorotan dari lembaga riset pasar modal.

"Harga saham BUMI turun dari Rp 236 pada kuartal pertama 2026 ke sekitar Rp 175 saat ini, mencerminkan sentimen negatif sektor batu bara dan koreksi konglomerasi," ujar BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS).

Penurunan harga saham tersebut dinilai memberikan valuasi yang relatif lebih murah jika dibandingkan dengan rekam jejak historis perusahaan.

"Harga Rp 175 mengindikasikan rasio PE 39 kali dan PBV 2,3 kali. Secara historis, saham BUMI saat ini relatif undervalued karena PE historis pernah lebih dari 500 kali dengan rata-rata tiga tahun 159 kali," kata BRIDS.

Proses penyesuaian rasio keuangan ini berjalan seiring pemulihan kinerja internal dan penyelesaian kewajiban keuangan perusahaan.

"PE 39 kali saat ini menunjukkan normalisasi ke level rasional setelah kemampuan laba BUMI kembali berkelanjutan dan restrukturisasi utang selesai," jelas BRIDS.

Diversifikasi aset ke sektor komoditas logam dianggap memberikan dorongan baru bagi prospek pertumbuhan jangka panjang emiten.

"Cerita BUMI sekarang bukan hanya mengandalkan pemulihan harga batu bara, melainkan transformasi ke platform pertambangan terdiversifikasi dengan kombinasi tembaga, emas, bauksit, dan batu bara. Timing akuisisi mineral di tengah harga emas dan tembaga tinggi adalah strategi yang tepat," menggarisbawahi BRIDS.

Kini pergerakan harga saham BUMI masih akan dipengaruhi oleh dinamika harga komoditas dunia, rilis laporan keuangan terbaru, serta arus modal investor domestik maupun asing.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed