Umat Islam Sambut Rebo Wekasan 12 Agustus 2026 dengan Sholat Mutlak

Smallest Font
Largest Font

Umat Islam di berbagai wilayah Indonesia menyambut momentum Rebo Wekasan yang jatuh pada Rabu, 12 Agustus 2026 atau 28 Safar 1448 Hijriah, dengan memperbanyak doa dan ibadah sunnah. Peringatan hari Rabu terakhir pada bulan Safar ini dimanfaatkan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT serta memohon keselamatan dari berbagai kemudaratan.

Istilah Rebo Wekasan atau Arba Mustakmir merujuk pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, bulan kedua dalam sistem kalender Hijriah yang dimulai sejak Kamis, 16 Juli 2026. Di beberapa daerah seperti Gresik dan Cirebon, tradisi ini diisi dengan kegiatan keagamaan dan ziarah wali secara turun-temurun.

Di Cirebon, tradisi penolakan bala diselenggarakan di lingkungan pesantren sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon perlindungan dari mara bahaya.

"Living Hadis: Tradisi Rebo Wekasan di Pondok Pesantren MQHS Al-Kamaliyah Babakan Ciwaringin Cirebon," tulis Siti Nurjannah, Peneliti Tradisi Islam.

Pendapat ulama mengenai amalan ziarah dan doa penolak bala pada akhir bulan Safar menegaskan bahwa kegiatan tersebut diperbolehkan selama niatnya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Berziarah ke makam para wali pada periode ini dipandang sebagai bentuk tawassul.

"Berziarah di Rabu terakhir bulan Safar berdoa dijauhkan dari bala dan musibah, karena menurut ulama tasawuf musibah paling banyak diturunkan pada Rabu terakhir di bulan Safar, itu mereka dapatnya dari ilham, bukan hadits Nabi SAW," kata Ustadz Abdul Somad, Penceramah.

Terkait pelaksanaan ibadah sholat khusus Rebo Wekasan, Majelis Ulama Indonesia menerangkan aturan baku fikih mengenai ibadah murni. Sholat tidak dapat diniatkan khusus atas nama Rebo Wekasan karena tidak ada dalil langsung dari Al-Qur'an maupun hadits.

"Dalam fikih, ibadah mahdhah bersifat tauqifiyah. Artinya, harus berdasarkan petunjuk dari Al-Qur'an dan sunnah, baik secara langsung maupun tidak langsung," kata KH Miftahul Huda, Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia.

Meskipun sholat khusus Rebo Wekasan dikategorikan haram oleh sebagian ulama seperti KH Hasyim Asy'ari, para ulama memperbolehkan umat Islam meniatkannya sebagai sholat sunnah mutlak. Sholat sunnah mutlak tidak terikat oleh waktu, sebab, maupun jumlah rakaat tertentu.

"Aku berpendapat, termasuk yang diharamkan adalah sholat Safar (Rebo Wekasan), maka barang siapa menghendaki sholat di waktu-waktu terlarang tersebut, maka hendaknya diniati sholat sunnah mutlak dengan sendirian (bukan berjamaah) tanpa bilangan rakaat tertentu. Sholat sunnah mutlak adalah sholat yang tidak dibatasi dengan waktu dan sebab tertentu dan tidak ada batas rakaatnya," tulis Syekh Abdul Hamid Muhammad Ali, Ulama Pengarang Kitab Kanz an-Najah wa as-Surur.

Masyarakat yang menjalankan ibadah sholat sunnah mutlak Rebo Wekasan 2026 dapat memulainya pada Selasa, 11 Agustus 2026 selepas magrib. Namun, pelaksanaan ibadah sunnah ini wajib menghindari lima rentang waktu terlarang dalam ajaran Islam.

"Lima Waktu yang Diharamkan," tulis Yazid Muttakin, Penulis Keislaman.

Waktu terlarang tersebut meliputi saat terbit matahari hingga setinggi tombak, saat istiwa di tengah hari, saat matahari menguning hingga tenggelam, serta setelah shalat subuh dan ashar.

Tata cara sholat sunnah mutlak pada Rebo Wekasan dikerjakan sebanyak empat rakaat dengan formasi dua rakaat satu salam, dilanjutkan dengan membaca surah Al-Fatihah, Al-Kautsar, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.

"Amalan Shalat Sunnah pada Rabu Wekasan dan Doanya Dilengkapi Artinya," tulis Annisa Rahma, Peneliti Keagamaan.

Sebelum memulai ibadah, setiap muslim memantapkan niat di dalam hati untuk menjalankan ibadah semata-mata karena Allah SWT.

"Saya niat shalat sunnah dua rakaat karena Allah ta’ala," demikian lafal niat shalat sunnah mutlak yang dibaca umat Islam.

Setiap gerakan dalam sholat sunnah mutlak diiringi dengan bacaan dan doa keagungan yang diresapi secara tumakninah.

"Maha Suci Allah Rabbku Yang Maha Agung, Maha Suci Allah Rabbku Yang Maha Agung, Maha Suci Allah Rabbku Yang Maha Agung," demikian arti bacaan rukuk dalam pelaksanaan shalat.

Usai bangkit dari rukuk, umat Islam berdiri tegak membaca pujian syukur kepada Tuhan.

"Allah SWT mendengar orang yang memujinya," demikian arti bacaan iktidal setelah rukuk.

Saat bersujud, doa pengagungan dilafalkan untuk menunjukkan kerendahan diri seorang hamba di hadapan Sang Pencipta.

"Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi, dan memujilah aku kepada-Nya," demikian arti bacaan sujud dalam shalat mutlak.

Antara dua sujud, bacaan yang dilantunkan berisi permohonan ampunan, rahmat, petunjuk, dan rezeki.

"Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku, perbaikilah keadaanku, tinggikanlah derajatku, berilah rezeki dan petunjuk untukku," demikian arti bacaan saat duduk di antara dua sujud.

Selain ibadah sholat sunnah mutlak, masyarakat juga dianjurkan memperbanyak amalan umum seperti dzikir, istighfar, membaca Al-Qur'an, dan bersedekah kepada warga yang membutuhkan.

"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka," demikian doa yang dipanjatkan umat Islam dalam momentum Rebo Wekasan.

Berbagai lembaga keagamaan seperti BAZNAS mengimbau agar momentum Rebo Wekasan disikapi secara bijak dengan meningkatkan kepedulian sosial dan ketaqwaan, tanpa meyakini adanya hari sial.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed