Peneliti Temukan Rahasia Darah Manusia pada Lukisan Cadas Huashan
Rahasia ketahanan karya seni purba di kawasan Zuojiang Huashan Rock Art Cultural Landscape, Lembah Sungai Zuojiang, China, akhirnya terkuak. Studi ilmiah terbaru mengungkap bahwa masyarakat kuno memanfaatkan darah manusia sebagai bahan pengikat agar lukisan tetap menempel rapat di tebing batu kapur selama lebih dari dua milenium. Karya seni visual berwarna merah mencolok tersebut diperkirakan lahir dari kebudayaan Luoyue sekitar 2.600 hingga 1.900 tahun lalu.
Seperti dilansir dari Detik iNET, area luar ruang ini terus diterjang iklim subtropis dan curah hujan tinggi, namun coraknya masih terjaga hingga kini. Uji komposisi kimia membuktikan kekuatan zat perekat pada pigmen tebing tersebut sangat tinggi. Bahkan, para ilmuwan terpaksa menggunakan bor listrik saat bermaksud mengisolasi sampel dari permukaan batu kapur.
Komposisi warna merah pada dinding batu tersebut rupanya tidak berasal dari darah. Seniman masa lampau mengandalkan tanah liat lokal yang kaya akan kandungan oksida besi sebagai pewarna utama.
Darah berfungsi sebagai komponen perekat dasar untuk memperkuat daya tempel zat warna. Seniman Luoyue memulainya dengan memanaskan campuran batu kapur, tulang hewan, kangkung cangkang, serta kotoran burung hingga menghasilkan kalsium fosfat dan kapur tohor. Adukan kalsium tersebut kemudian dicampur bersama air dan darah hingga membentuk mortar cair. Setelah dioleskan ke tebing, permukaan lapisan mortar basah dilapisi kembali dengan pigmen tanah liat merah.
Secara kimiawi, protein dalam darah memicu proses biomineralisasi pada kalsium karbonat mortar. Mekanisme ini menghasilkan sistem ikatan komposit organik-anorganik yang mengunci partikel warna di dalam struktur batu kapur secara permanen.
"Sistem ikatan komposit organik-anorganik yang stabil ini mengungkap proses teknologi kompleks yang digunakan para pembuatnya dan menjelaskan mengapa seni cadas Huashan dapat bertahan dengan sangat baik dalam kondisi yang menantang selama lebih dari dua milenium," kata para peneliti dalam publikasi di Journal of Archaeological Science.
Analisis laboratorium menunjukkan variasi komposisi biologis pada beberapa titik lokasi. Sebagian sampel perekat mortar terdeteksi mengandung 97-99% darah manusia yang bercampur dengan 1-3% darah hewan herbivora. Sementara pada sampel lain, proporsi darah manusia tercatat sebesar 61% dan darah sapi 39%.
Korelasi dengan Ritual Kesuburan
Pemeriksaan spesifik pada jenis protein menemukan jejak prolactin-inducible protein serta lactotransferrin. Kedua senyawa ini secara biologis mengalami lonjakan konsentrasi signifikan pada tubuh perempuan yang memasuki masa hamil tua atau menyusui.
Temuan molekuler tersebut sejalan dengan visualisasi mural dinding tebing Huashan yang kental dengan simbol-simbol reproduksi. Lukisan menonjolkan figur perempuan hamil, aktivitas seksual, hingga gambaran alat kelamin laki-laki.
Para ahli menyimpulkan indikasi kuat bahwa lukisan tebing ini berkaitan erat dengan paktik kultus kesuburan masyarakat Luoyue. Meski demikian, anggapan mengenai pemanfaatan darah perempuan usai persalinan masih berstatus sebagai hipotesis ilmiah yang memerlukan pembuktian lanjutan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow