PLN Akselerasi Proyek PLTA 11,7 GW dalam RUPTL 2025-2034

Smallest Font
Largest Font

Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) menjadi pilar utama dalam transformasi sistem kelistrikan nasional. Langkah ini ditempuh untuk memperkuat ketahanan energi serta mengakselerasi transisi menuju energi bersih.

Gelaran Indonesia Hydropower Summit 2026 yang diselenggarakan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) bersama Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB) mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, seperti dilansir dari Investor Daily.

Plt. Ketua Umum METI, Norman Ginting, menyampaikan bahwa potensi energi air nasional yang melimpah harus dimanfaatkan secara optimal guna menopang kebutuhan listrik dan komitmen Net Zero Emission 2060.

"Indonesia memiliki potensi energi air yang sangat besar dan harus dimanfaatkan secara optimal sebagai salah satu fondasi ketahanan energi nasional. Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik dan komitmen menuju Net Zero Emission 2060, hydropower memiliki keunggulan sebagai sumber energi bersih yang andal, mampu menopang stabilitas sistem kelistrikan, serta menjadi pasangan ideal bagi pengembangan pembangkit surya dan angin. Melalui forum ini, METI ingin mendorong kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, BUMN, dunia usaha, akademisi, lembaga keuangan, dan masyarakat untuk mempercepat pengembangan PLTA yang berkelanjutan dan berdaya saing," ujar Norman Ginting.

Norman menambahkan bahwa keberhasilan transisi energi memerlukan kepastian regulasi, kesiapan proyek, serta dukungan pembiayaan dan riset yang kuat dari seluruh pihak.

"METI akan terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Kami berharap Indonesia Hydropower Summit 2026 menghasilkan rekomendasi konkret, memperluas kolaborasi lintas sektor, dan mempercepat realisasi proyek-proyek hydropower yang mampu meningkatkan ketahanan energi, pertumbuhan ekonomi, serta kesejahteraan masyarakat Indonesia," kata Norman.

Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034, porsi energi baru terbarukan mencakup 76% dari total penambahan kapasitas 69,5 GW. Sektor hidro ditargetkan menyumbang 11,7 GW, yang ditopang oleh 4,3 GW pumped storage dan 6 GW Battery Energy Storage System (BESS).

Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero), Suroso Isnandar, menjelaskan bahwa PLTA dapat beroperasi sebagai pemikul beban utama (base load) dengan tingkat emisi karbon yang sangat rendah.

Hingga pertengahan 2026, PLN telah mengeksekusi proyek hydropower berkapasitas 10,6 GW atau setara 66% dari target pengembangan hidro RUPTL, mencakup proyek tahap konstruksi maupun operasi komersial.

Guna mempercepat realisasi target tersebut, PLN meluncurkan program GIGA ONE Hydro yang menargetkan kapasitas 7 GW di kawasan Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum menyoroti pentingnya penguatan kesiapan proyek melalui ketersediaan data hidrologi, kepastian lahan, serta integrasi waduk sebagai infrastruktur multi-manfaat untuk ketahanan air, pangan, dan energi.

Dukungan juga datang dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang mendorong perguruan tinggi untuk menjadi pusat riset dan hilirisasi teknologi energi bersih. Integrasi seluruh sektor ini diharapkan mampu mengoptimalkan potensi tenaga air nasional yang diperkirakan melebihi 95 GW.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed