PGEO Bidik Laba Bersih US 160 Juta Pada 2026
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menargetkan perolehan laba bersih sebesar US$ 150 juta hingga US$ 160 juta sepanjang 2026. Target tersebut dipicu peningkatan produksi listrik panas bumi, pengoperasian aset baru, serta proyek green hydrogen, dilansir dari Investor Daily pada Selasa (4/8/2026).
Hingga semester I-2026, PGEO mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 15,46 persen menjadi US$ 79,6 juta. Pada periode yang sama, pendapatan perseroan naik 14,7 persen mencapai US$ 235 juta dengan EBITDA sebesar US$ 184,02 juta.
Kinerja keuangan tersebut didukung oleh total produksi listrik yang mencapai 2.745 gigawatt hour (GWh), naik 13,6 persen secara tahunan. Operasional penuh PLTP Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 MW sejak pertengahan 2025 menjadi salah satu pendorong utama peningkatan output.
Direktur Keuangan PGEO Fransetya Hutabarat menyatakan bahwa proyeksi kinerja tahunan dihitung berdasarkan pencapaian pada paruh pertama tahun ini.
"Kalau melihat realisasi semester pertama, mungkin dikali dua, kurang lebih di level itu target net income kami. Untuk pendapatan semester pertama sekitar US$ 235 juta, sehingga target sepanjang tahun sekitar US$ 455 juta," ujar Fransetya Hutabarat, Direktur Keuangan PGEO.
Ia menambahkan bahwa penurunan margin laba kotor dari 58,9 persen menjadi 55,5 persen disebabkan oleh masuknya beban penyusutan dari aset baru, bukan karena masalah operasional.
"Depresiasi dari proyek Lumut Balai Unit 2 sudah masuk, tetapi gross profit margin masih berada di level yang cukup tinggi sekitar 55,5%," ujar Fransetya Hutabarat, Direktur Keuangan PGEO.
Fransetya juga menegaskan bahwa rasio profitabilitas perusahaan masih terjaga di tingkat yang aman.
"Ada kontribusi penuh PLTP Lumut Balai Unit 2 yang mulai beroperasi komersial pada akhir Juni 2025," kata Andi Joko Nugroho, Direktur Operasi PGEO.
Dari sisi pengembangan bisnis baru, PGEO bersiap mengoperasikan proyek percontohan green hydrogen di Wilayah Kerja Ulubelu, Lampung, pada November 2026 dengan kapasitas awal 100 kilogram per hari.
"Kami melihat masa depan geothermal bukan hanya menghasilkan listrik, tetapi juga produk lain yang dapat dikembangkan seperti green hydrogen," ujar Ahmad Yani, Presiden Direktur PGEO.
Sebanyak 20 kilogram pasokan hidrogen hijau tersebut telah disepakati untuk dijual kepada Toyota, sementara sisanya dialokasikan untuk kebutuhan internal Grup Pertamina.
"Kajiannya sudah berlangsung," ujar Edwil Suzandi, Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGEO.
Hingga pertengahan 2026, PGEO telah merealisasikan belanja modal sebesar US$ 23,8 juta, dengan porsi terbesar senilai US$ 13,6 juta dialokasikan untuk pengembangan proyek energi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow