Pemerintah Tangani Dampak Gempa M7,7 di Flores Nusa Tenggara Timur
Pemerintah mempercepat penanganan darurat dan pemulihan medis pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, sejak Sabtu (15/8/2026). Penanganan terfokus pada kesiapsiagaan gempa susulan, penyediaan fasilitas medis, dan pemulihan trauma warga.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis pusat gempa berada di 30 km Timur Laut Mbay-Nagekeo-NTT dengan koordinat 8,41 LS - 121,39 BT. Peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan BMKG pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB telah resmi dinyatakan berakhir pada pukul 07.31 WIB.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto menemui para penyintas di Desa Peozaka Ramba, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, pada Rabu (19/8/2026). Dalam kunjungan tersebut, pihak BNPB meminta warga tetap waspada namun tidak panik menyikapi gempa susulan.
"Jangan panik, tetapi tetap waspada. Selama 2-3 minggu kedepan menurut BMKG gempa susulan itu mungkin masih terjadi. Tetapi gempa-gempa itu tidak sebesar gempa utama (red: tidak sebesar magnitudo 7,7).
Bahkan jika ada isu akan terjadi tsunami menurut BMKG itu tidak mungkin. Ini menurut riset ilmu pengetahuan," jelas Suharyanto.
Suharyanto menyoroti imbauan bagi masyarakat yang kondisi tempat tinggalnya mengalami kerusakan agar mengutamakan keselamatan sebelum kembali beraktivitas di dalam rumah.
"Kalau rumahnya rusak cukup parah, jangan masuk dulu. Keselamatan masyarakat adalah yang utama. Tetapi bagi rumah yang aman dan sudah diperiksa, masyarakat tidak perlu takut secara berlebihan. Tetap ikuti informasi resmi, jangan percaya pada kabar yang tidak jelas sumbernya," tegasnya.
Guna memastikan pemulihan pascagempa berjalan lancar, pemerintah daerah bersama BNPB, BPBD, dan BMKG terus berkoordinasi dalam memantau kondisi lapangan serta memenuhi kebutuhan dasar warga.
"Yang kita perlukan sekarang adalah tenang dan waspada. Jangan panik, tetapi juga jangan lengah. Dengarkan informasi dari sumber resmi. Pemerintah akan terus berada di tengah masyarakat dan memastikan kebutuhan serta keselamatan masyarakat menjadi prioritas," kata Suharyanto.
Dampak guncangan gempa turut melumpuhkan operasional RS Pratama Rajad dan RS Aeramo, serta merusak bangunan tiga puskesmas. Menanggapi kondisi darurat tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meninjau rumah sakit lapangan di NTT dan berdialog dengan tenaga medis.
Dokter Restu membagikan pengalamannya saat terpaksa melakukan operasi sesar darurat di dekat pintu masuk gedung fasilitas kesehatan akibat terputusnya akses jalan dan keterbatasan peralatan.
"Waktu itu saya pertimbangkan rencana SC Cito, tapi jalur rujukan terputus. Jembatan rusak, jalan rusak," kata dr. Restu.
Menanggapi situasi darurat tersebut, Kementerian Kesehatan langsung memastikan ketersediaan alat medis esensial seperti mesin anestesi dan alat kauter di Rumah Sakit Lapangan Nagekeo. Menkes Budi Gunadi Sadikin memprioritaskan penanganan medis langsung kepada pasien sebelum melakukan pembenahan infrastruktur.
"Tugas prioritas Kementerian Kesehatan saat tanggap darurat nomor satu adalah pasiennya, bukan fasilitas pelayanannya. Pasiennya nomor satu, sesudah itu baru nomor dua kita perbaiki fasilitas yang rusak," kata Budi.
Kemenkes menetapkan percepatan sistem triase dalam 3 hingga 5 hari pertama pascabencana. Selanjutnya, rehabilitasi infrastruktur fasilitas kesehatan yang rusak ditargetkan rampung dalam waktu 8 hingga 12 bulan ke depan, didampingi dengan program penanganan trauma psikologis bagi warga terdampak.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow