Pelukis Maestro Nasirun Tutup Usia di Yogyakarta

Smallest Font
Largest Font

Pelukis maestro Nasirun asal Yogyakarta meninggal dunia pada Sabtu, 1 Agustus 2026, meninggalkan warisan seni yang luas dan filosofi hidup yang unik. Kabar ini mengguncang dunia seni rupa Indonesia yang kehilangan salah satu tokoh otentik.

Nasirun wafat pada usia 60 tahun di Rumah Sakit AMC Yogyakarta. Ia dikenal memilih hidup tanpa telepon genggam sejak tahun 2000 untuk menjaga fokus dan kemurnian karya seninya, sebuah keputusan yang jarang ditemui di era digital saat ini, menurut harian Disway.

Nasirun pernah menyatakan, "Dering telepon yang tiada henti membuat saya merasa dikejar-kejar penagih utang dan kehilangan fokus kreatif," ujar Nasirun dalam siniar Beginu. Ia memilih untuk hanya menerima komunikasi langsung di studionya di kawasan Wates, Bantul, yang dikenal sebagai museum hidup dan gudang peradaban seni.

Filosofi hidup Nasirun juga tercermin dalam konsep "zakat kebudayaan" yang ia pegang, yakni mendonasikan sebagian rezekinya untuk merawat dan menyelamatkan karya serta arsip maestro pendahulu seperti Fajar Sidik, Danarto, dan Sunarto PR. Ia menyebut studionya sebagai ruang terbuka bagi seniman muda dan penikmat seni untuk belajar dan menyerap ilmu dari para pendahulu.

Nasirun juga dikenal sebagai "seniman gorengan" sejak tahun 1997, sebuah label yang mengacu pada popularitas karya seninya di pasar seni. Namun, ia menegaskan bahwa fokus utamanya adalah berkarya dan memberikan semangat, bukan sekadar pasar. "Saya senang karya yang agak spektakuler karena minimal saya menyemangati diri sendiri," ujar Nasirun kepada detik.com.

Nasirun memiliki museum yang berisi ribuan karya seni, termasuk koleksi karya seniman Tanah Air dari era 1940 hingga sebelum Orde Lama. Ia menyimpan karya-karya ini untuk memastikan tidak dilupakan oleh generasi muda. "Tujuan saya cuma satu untuk berbagi ke anak muda agar tidak melupakan sejarah," kata Nasirun.

Selain melukis di atas kanvas biasa, Nasirun juga dikenal melukis body mobil berbagai merek sebagai media ekspresinya. Tiga karyanya pun memecahkan rekor yang tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Rencananya, jenazah Nasirun akan dimakamkan di Taman Makam Seniman dan Budayawan Giri Sapto, Imogiri, Bantul. Kepergiannya meninggalkan teladan seorang seniman yang hidup nyata, merawat ingatan seni, dan menolak dominasi layar digital.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed